Oleh : Ali Aminulloh
Ada yang ganjil sekaligus genap hari ini. 26.02.2026.
Depan–tengah–belakang seperti bercermin. Simetris. Rapi. Seolah semesta sedang menepuk bahu kita: “Hei, manusia, sudahkah jiwamu serapi tanggal hari ini?”
Di balik angka yang unik itu, 26 Februari 2026 ternyata bukan sekadar permainan numerik. Hari ini diperingati sebagai Hari Bercerita Dongeng (National Tell a Fairy Tale Day – Amerika Serikat) dan juga Hari Menulis Surat untuk Lansia (Letter to an Elder Day).
Satu hari. Dua gerakan.Dua generasi.
Anak-anak dan lansia.
Dua-duanya sama: sama-sama butuh perhatian.
Dongeng: Vitamin Jiwa Anak
Dongeng sering dianggap sepele. Hanya cerita sebelum tidur. Padahal, ia adalah “laboratorium emosi” pertama bagi seorang anak.
Psikolog perkembangan kognitif Jerome Bruner menegaskan bahwa manusia memahami dunia melalui narasi. Cerita membantu anak membangun makna, identitas, dan kerangka berpikir moral.
Sementara itu, Bruno Bettelheim dalam bukunya The Uses of Enchantment menjelaskan bahwa dongeng klasik membantu anak menghadapi ketakutan terdalamnya, yaitu ditinggalkan, gagal, kalah, melalui simbol dan metafora. Anak belajar bahwa kegelapan selalu punya celah cahaya.
Dongeng bukan sekadar hiburan. Ia adalah pendidikan emosi.
Ia menanamkan nilai tanpa menggurui.
Ia membentuk empati tanpa ceramah panjang.
Dalam Al-Qur’an, metode cerita justru menjadi sarana pendidikan utama. Allah berfirman:>
“Laqad kana fii qashashihim ‘ibratun li ulil albaab”
“Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Yusuf: 111)
Al-Qur’an penuh dengan kisah: Nabi Yusuf, Musa, Ibrahim. Bukan sekadar sejarah, tetapi pembentuk jiwa. Maka mendongeng sejatinya adalah metode ilahiah, yaitu menghidupkan nilai lewat cerita.
Surat untuk Lansia: Pelukan yang Ditulis
Jika dongeng adalah pelukan untuk anak-anak, maka surat adalah pelukan untuk orang tua.
Banyak lansia hidup dalam sunyi. Anak sibuk. Dunia berlari. Mereka tertinggal dalam sepi yang tak selalu bersuara.
Psikolog humanistik Erik Erikson menyebut tahap akhir kehidupan sebagai fase integrity vs despair, yaitu fase ketika seseorang menilai hidupnya: bermakna atau sia-sia. Dukungan sosial menjadi faktor penting agar lansia merasa hidupnya utuh dan berharga.
Penelitian psikologi positif oleh Martin Seligman juga menunjukkan bahwa perhatian, apresiasi, dan hubungan sosial meningkatkan kebahagiaan serta memperpanjang kualitas hidup.
Surat sederhana bisa menjadi oksigen psikologis.
Beberapa kalimat bisa menghidupkan kembali semangat yang hampir redup.
Al-Qur’an jauh hari mengingatkan:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua…” (QS. Al-Isra: 23)
Berbuat baik tak selalu harus besar. Kadang cukup dengan kata.
Kadang cukup dengan tulisan:
“Bagaimana kabar, Nek? Kami rindu.”
Dua Ujung Usia, Satu Kebutuhan: Diperhatikan
Anak-anak dan lansia berada di dua tepi kehidupan.
Yang satu baru belajar berjalan.
Yang satu mulai melambat langkahnya.
Namun keduanya sama-sama haus perhatian.
Dongeng memberi arah pada jiwa yang sedang tumbuh.
Surat memberi makna pada jiwa yang telah menempuh jauh.
Dua-duanya menghidupkan jiwa.
26 02.2026 dan Trilogi Kesadaran
Syaykh Al Zaytun menggagas Trilogi Kesadaran:
1. Kesadaran Filosofis
2. Kesadaran Ekologis
3. Kesadaran Sosial
Mari kita renungkan di tanggal unik ini.
1. Kesadaran Filosofis
Dongeng dan surat mengajarkan kita bertanya:
Apa makna hidup?
Apa warisan nilai yang kita tinggalkan?
Cerita membangun makna. Surat merawat makna.
2. Kesadaran Ekologis
Ekologi bukan hanya soal alam, tapi juga ekosistem manusia.
Anak dan lansia adalah bagian dari rantai kehidupan.
Jika generasi kecil tak diberi nilai, dan generasi tua tak diberi hormat, ekosistem sosial akan rapuh.
3. Kesadaran Sosial
Perhatian adalah energi sosial.
Tanpa perhatian, masyarakat menjadi dingin.
Tanpa empati, manusia menjadi mesin.
Dongeng dan surat adalah tindakan sosial paling sederhana namun paling revolusioner.
Hari Ini, Angka Simetris. Apakah Hati Kita Juga?
26.02.2026. Cantik di kalender.
Pertanyaannya:
Apakah hidup kita juga simetris?
Apakah kita hanya sibuk pada generasi produktif, sementara yang paling muda dan paling tua terabaikan?
Hari ini semesta seolah berkata:
Ceritakan kisah untuk anak-anak.
Tuliskan cinta untuk lansia.
Karena peradaban tidak hanya diukur dari gedung tinggi dan teknologi canggih,
tetapi dari cara ia memperlakukan yang paling kecil dan yang paling renta.
Dan mungkin, di situlah tanggal cantik ini menemukan maknanya.







