Mdi.News linggih Se-Bali Gelar Pasemuhan Agung di Kantor Gubernur Bali, Perkuat Kerukunan Umat Jelang Nyepi 2025Denpasar, Bali 30 Desember 2025
Sebanyak 70 sulinggih se-Provinsi Bali berkumpul bersama sekitar 300 peserta dalam momentum Pasemuhan Agung yang diselenggarakan di Kantor Kegubernuran Bali, Selasa (30/12/2025).
Kegiatan sakral ini menjadi ruang dialog spiritual dan kebangsaan dalam rangka memperkuat kerukunan umat serta menjaga harmoni kehidupan masyarakat Bali menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1947.
Melalui siaran persnya, DR HC Ida Pandita Empu Nabe, yang juga merupakan salah satu sulinggih peserta pasemuhan, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut
dihadiri langsung oleh Gubernur Bali I Wayan Koster, perwakilan TNI dan Polri, serta sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi Bali
“Pasemuhan Agung ini menjadi momentum penting bagi para sulinggih dan seluruh komponen masyarakat untuk menyatukan pandangan dalam menjaga keharmonisan, toleransi, serta kedamaian umat beragama di Bali,” ujar Ida Pandita Empu Nabe kepada awak media.
Dalam pertemuan tersebut, hadir sejumlah narasumber spiritual yang menyampaikan pemaparan tattwa (filsafat keagamaan Hindu). Di antaranya Ida RSI Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, yang membawakan tema tattwa tentang Ngerupuk, Tawur Kesanga, dan Ngembak Geni, sebagai rangkaian penting dalam pelaksanaan Hari Raya Nyepi.
Selain itu, pemaparan tattwa Nganinn Tika disampaikan oleh Ida Shri Begawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, serta Ida Ratu Dang Dira Rajya SKHDN Pusat, yang
menekankan makna penyucian diri, alam, dan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.
Pasemuhan Agung ini dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi, yang merupakan hari suci dan hari raya besar umat Hindu di Indonesia.
Nyepi dimaknai sebagai momentum penyucian Bhuwana Alit (alam diri manusia) dan Bhuwana Agung (alam semesta), guna menciptakan keseimbangan dan keharmonisan kehidupan.
Ida Pandita Empu Nabe juga menjelaskan bahwa rangkaian perayaan Nyepi diawali dengan sejumlah upacara suci, di antaranya Upacara Melasti atau Mekiis, yang dilaksanakan di pantai, sumber mata air
pegunungan, maupun campuhan sungai yang dianggap suci. Upacara ini bertujuan untuk menyucikan sarana upakara serta diri umat sebelum memasuki hari Nyepi.
Selanjutnya dilaksanakan Upacara Tawur Kesanga, sebagai simbol penyelarasan unsur bhuta kala agar tercipta keseimbangan alam.
Puncak perayaan Hari Raya Nyepi adalah pelaksanaan Brata Penyepian, dengan menjalankan Catur Brata Penyepian, yakni:
Amati Geni (tidak menyalakan api atau cahaya),
Amati Lelungan (tidak bepergian
Amati Lelanguan (tidak menikmati hiburan
Amati Karya (tidak bekerja
Melalui Pasemuhan Agung ini, diharapkan nilai-nilai spiritual Nyepi tidak hanya dipahami sebagai ritual keagamaan, tetapi juga menjadi pedoman moral
untuk menjaga perdamaian, toleransi, dan persatuan di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, khususnya di Pulau Bali yang dikenal sebagai simbol harmoni dan kebhinekaan.







