MDI NEWS | Jakarta, – Umm Hisyam bint Haritsah ra merupakan salah satu sahabat perempuan Nabi Muhammad Saw yang menghafal al-Qur’an langsung dari lisan Nabi Saw.
Tahukah Anda kisah seorang perempuan yang menghafalkan surat Qof langsung dari lisan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam?
Perempuan itu bernama Umm Hisyam ra yang setiap Salat Jumat ikut berjamaah di dalam Masjid Nabawi. Ini adalah fakta bahwa perempuan di zaman Nabi ikut Salat Jumat bersama laki-laki.
Sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan Amrah bint Abdurrahman yang mendengar Umm Hisyam ra, bahwa dia berkata:
عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أُخْتٍ لِعَمْرَةَ قَالَتْ أَخَذْتُ ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ مِنْ فِى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهُوَ يَقْرَأُ بِهَا عَلَى الْمِنْبَرِ فِى كُلِّ جُمُعَةٍ (صحيح مسلم، رقم: 2049).
Artinya: “Aku menghafal surat al-Qaf (langsung) dari lisan Rasulullah Saw pada setiap Jum’at. Di mana baginda membacakanya di atas Mimbar setiap (khutbah) Jum’at”. (Sahih Muslim, no. 2049).
Tahun 2011 saat menunaikan ibadah haji saya melihat secara langsung hal-hal yang tidak biasa dijumpai di Indonesia diantaranya:
1. Masjidil Haram
Saat masuk ke dalam Masjid dan selesai melakukan tawaf kita melakukan salat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim, yakni batu tempat Nabi Ibrahim berpijak saat membangun kembali Ka’bah dari pondasinya.
Yang menarik, tidak seperti di Indonesia di Masjidil Haram khususnya dekat Ka’bah laki-laki dan perempuan urutan sholat bercampur.
Hal ini terasa aneh bagi saya yang selama di Indonesia melihat jamaah laki-laki dan perempuan terpisah secara jelas.
2. Masjid Nabawi
Pengalaman yang mengesankan berikutnya bagi saya saat di Masjid Nabawi, disini pertama kali dalam hidup saya ikut Salat Jumat.
Saya baru tahu bahwa perempuan boleh ikut Salat Jumat di dalam Masjid. Selama ini di Indonesia hampir tidak pernah saya lihat ada perempuan yang ikut salat Jumat bersama kaum Laki-laki, dan kami para perempuan diyakinkan bahwa sebaiknya salat di rumah saja.
Sampai saya berpikir kenapa anak-anak perempuan kita tidak diajarkan untuk Salat Jumat supaya bisa mudah hafal Al-Qur’an seperti Umm Hisyam ra?
Hingga pada tahun 2015 saya melihat para santri perempuan ikut Salat Jumat di Masjid Al Hayat, Ma’had Al-Zaytun. Rupanya mereka adalah pendidik yang meneladani cara Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dalam mendidik anak perempuan.
Saya teringat kisah Maryam binti Imran yang hidup pada zaman di mana anak-anak perempuan tidak boleh belajar membaca dan menulis, serta tidak boleh ikut serta beribadah bersama kaum lelaki di Baitul maqdis.
Maryam satu-satunya perempuan yang belajar membaca dan menulis dalam kamar khusus di Baitul maqdis.
Kemudian tibalah hari yang mencengangkan, yakni saat Maryam diperintahkan Allah untuk ikut rukuk (Salat) beserta orang-orang yang rukuk. Apa yang terjadi?
Tentu saja kaum Laki-laki saat itu menjadi terkejut dan gaduh, karena ada perempuan ikut beribadah bersama mereka. Tertuang dalam (QS. Ali Imran [3] : 43)
يٰمَرۡيَمُ اقۡنُتِىۡ لِرَبِّكِ وَاسۡجُدِىۡ وَارۡكَعِىۡ مَعَ الرّٰكِعِيۡنَ
Yaa Maryamuq nutii li Rabbiki wasjudii warka’ii ma’ar raaki’iin.
Artinya: “Wahai Maryam ! Taatilah Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk”.
Apa persamaan Maryam binti Imran ibunda Nabi Isa as dengan perempuan di zaman Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam?
Persamaannya adalah perempuan di zaman itu mengalami kegelapan ilmu pengetahuan, dan Allah SWT mengutus Nabi-Nya untuk memuliakan kaum Ibu ini.
Seorang ulama pernah mengungkapkan bahwa, “jika kita mendidik anak laki-laki maka kita mendidik satu orang, namun jika kita mendidik anak perempuan maka kita mendidik semua.”
“Sebab Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya”.
Tidak heran jika Islam pernah mengalami masa jaya selama 700 tahun , karena jasa kaum Ibu yang memberi pondasi kuat dalam mendidik anak-anaknya dengan ajaran Ilahi sejak dalam kandungannya.
(Red)







