width=
width=

Teknologi AI Kian Berkembang, Dampaknya pada Dunia Kerja dan Ekonomi Global

Teknologi AI Kian Berkembang, Dampaknya pada Dunia Kerja dan Ekonomi Global

https://bidikutama.com/berita-mahasiswa/tantangan-terbesar-para-illustrator-dilema-ai-di-dunia-ilustrasi/
https://bidikutama.com/berita-mahasiswa/tantangan-terbesar-para-illustrator-dilema-ai-di-dunia-ilustrasi/

New York, 4 Maret 2025 – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin pesat dalam berbagai sektor, mulai dari industri manufaktur hingga layanan keuangan. Para pakar memperkirakan bahwa penggunaan AI akan mengubah lanskap dunia kerja dan ekonomi global secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang.

Menurut laporan terbaru dari International Labour Organization (ILO), AI berpotensi menggantikan 40% pekerjaan konvensional dalam 10 tahun ke depan.

“Sistem otomatisasi dan kecerdasan buatan telah mengambil alih pekerjaan-pekerjaan rutin, sementara manusia akan lebih fokus pada pekerjaan yang memerlukan kreativitas dan keterampilan analitis,” ujar Direktur ILO, Guy Ryder.

Salah satu sektor yang terdampak adalah industri jasa, di mana banyak perusahaan mulai mengadopsi chatbot AI untuk layanan pelanggan. Perusahaan teknologi seperti Google dan Microsoft juga terus mengembangkan AI untuk membantu dalam analisis data, pengambilan keputusan, dan efisiensi bisnis.

Di sisi lain, AI juga berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Ekonom dari Harvard University, Joseph Stiglitz, menyatakan bahwa negara-negara yang berinvestasi dalam pengembangan AI akan memiliki daya saing lebih tinggi di pasar global.

“AI dapat meningkatkan efisiensi bisnis dan menciptakan peluang ekonomi baru, tetapi pemerintah harus memastikan bahwa ada kebijakan yang melindungi tenaga kerja dari dampak negatifnya,” kata Stiglitz.

Beberapa negara seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Uni Eropa telah mengalokasikan dana miliaran dolar untuk penelitian dan pengembangan AI. Tiongkok, misalnya, menargetkan menjadi pemimpin global dalam teknologi AI pada tahun 2030 dengan investasi besar di sektor ini.

Di tengah kemajuan pesat ini, banyak pihak juga mengkhawatirkan dampak etis dari penggunaan AI. CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, kembali menegaskan pentingnya regulasi dalam pengembangan AI.

“Tanpa regulasi yang ketat, AI bisa menjadi ancaman serius bagi pekerjaan manusia dan bahkan stabilitas sosial,” ujarnya.

Uni Eropa telah mengambil langkah dengan menerapkan AI Act, yang mengatur penggunaan kecerdasan buatan di sektor publik dan swasta untuk mencegah penyalahgunaan teknologi.

Masa Depan AI dan Kesiapan Indonesia

Di Indonesia, pemerintah mulai mengambil langkah strategis dalam mengadopsi AI melalui program Making Indonesia 4.0. Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, menyatakan bahwa Indonesia harus siap menghadapi revolusi AI dengan meningkatkan keterampilan digital tenaga kerja.

“Kita harus memastikan bahwa AI menjadi alat yang mendukung kemajuan, bukan justru menciptakan pengangguran massal. Oleh karena itu, pendidikan dan pelatihan berbasis AI sangat diperlukan,” katanya.

Dengan pesatnya perkembangan AI, dunia berada di persimpangan jalan antara kemajuan teknologi dan tantangan sosial-ekonomi. Bagaimana manusia beradaptasi dan mengelola AI akan menentukan masa depan dunia kerja dan ekonomi global dalam dekade mendatang.

WWW.MDI.NEWS