MDI NEWS | INDRAMAYU, – Pimpinan Ponpes Al Zaytun Panji Gumilang setelah salat Jumat berjamaah menyampaikan tausiyahnya pada Jumat 12 Mei 2023 di Masjid Rahmatan Lil Alamin.
Syech mengatakan bahwa kemandirian menurut kamus besar bahasa indonesia adalah hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain, sedangkan menurut Sutari imam bernadif dalam muktadin kemandirian meliputi prilaku mampu berinisiatif mampu mengatasi masalah atau hambatan.
“Mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain,” kata Syech.
“Kemandirian islam sangat menganjurkan pemeluknya agar senantiasa hidup mandiri dalam memenuhi segala kebutuhan,” tambahnya.
Bangsa yang mampu berdiri diatas kekuatan sendiri dengan segala sumber daya yang dimiliki dan mampu memecahkan persoalan yang dihadapi juga mampu mengembangkan inovasi dan riset dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang akhirnya memiliki keunggulan dan daya saing,” papar Syaych.
Lebih dalam menjelaskan, membangun kemandirian bangsa berarti memahami proses kemandirian sebagai suatu usaha membangun bangsa yang mampu menyelesaikan setiap masalah dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sehat cerdas dan manusia.
“Kemandirian sebuah bangsa itu selalu terikat pada ukuran umur,” kata Syech.
Maka kesehatan itu penting. Urusan umur, hidup bahkan setelah seumur hidup telah mewariskan sehat kepada generasi yang lanjut.
Sehingga rakyat dapat diberi peluang untuk menyelesaikan permasalahan yang ada didalam maupun diluar pada negara Indonesia dengan cara cerdas dan manusiawi.
“Kemandirian merupakan mahkota kemerdekaan suatu bangsa. Indonesia yang kuat adalah indonesia yang merdeka, Indonesia yang merdeka adalah Indonesia yang mandiri,” jelas Syech dalam tausiyahnya.
Hal tersebut bermakna mereka adalah budaya yang mandiri yakni Indonesia yang membangun dengan budaya mandiri tanpa mengandalkan utang luar negeri,” kata Syech.
Dengan demikian, parameter kualitas sebuah negara yang merdeka adalah tingkat kemandirian dalam memenuhi kebutuhan dan dalam menentukan nasib sendiri, ketergantungan yang berlebihan kepada bangsa lain dalam hal pemenuhan hajat hidup rakyat pengingkaran atas semangat kemerdekaan itu sendiri.
Untuk mewujudkan bangsa yang lebih mandiri adalah sebuah perjuangan dan merupakan kerja keras yang tidak pernah berakhir. Kemandirian bangsa indonesia diukur dari bagaimana sikap kita dalam mengisi kemerdekaan ini dengan sikap mandiri, berbuat mandiri dan membangun secara mandiri,” sambungnya.
Semua elemen bangsa harus memiliki pemikiran dan perbuatan yang sama dalam membangun bangsa ini secara mandiri sinergitas rakyat dan pemerintah. Diperlukan menanamkan keyakinan bahwa kita mampu dan bisa menjadi bangsa yang memiliki budaya mandiri.
Maka, akan tumbuh upaya menjadi bangsa yang berkecukupan, bangsa yang kuat dan memiliki masyarakat sehat cerdas dan manusia.
Lebih lanjut, kemandirian suatu bangsa tercermin pada ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas. Manusia yang berkualitas hanya akan terbentuk melalui sebuah sistem pendidikan yang berkualitas, pendidikan yang memiliki jiwa kemandirian, pengetahuan yang luas serta berketerampilan yang tinggi,” terangnya.
“Indonesia” adalah bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan dengan kemandirian.
Bangsa yang mampu membangun diri menjadi kuat dengan menggala budaya mandiri dan kemandirian, bukan hanya seruan dan slogan dalam kata-kata indah di Zaytun.
Akan tetapi, sekaligus menjadi sikap dan aksi bahkan telah menjadi tradisi etos dan budaya dalam membangun baik berskala kecil maupun nasional.
“Syech panji gumilang selalu mengedepankan budaya kemandirian bukan hanya dengan kata-kata tapi dengan perbuatan dalam ruang lingkup Ad Zaytun.
Syech memberikan contoh nyata terwujudnya kemandirian dalam pembangunan-pembangunan di Al Zaytun yang dipandang berbagai pihak emas spektakuler ternyata dibangun dalam budaya kemandirian dan kebersamaan.
Di generasi muda sejak dini dididik untuk berfikir dan bertindak secara mandiri dan atas tanggungjawabnya sendiri merdeka dan mandiri dalam arti yang seluas-luasnya.
Kemerdekaan dalam interaksi yang harmonis dengan kemerdekaan dan kemandirian orang lain atau bangsa lain.
Inilah yang dilakukan para nabi terdahulu membangun sebuah peradaban yang memiliki masyarakat sehat cerdas dan manusia melalui kemandirian,” pungkasnya.







