width=
width=

Kemerdekaan Dalam Pandangan Filsafat

MDI.NEWS | Jakarta – “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

 

Rangkaian kalimat pada paragraf di atas adalah bunyi dari Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 alenia pertama. Itulah makna kemerdekaan dalam pandangan konstitusi negara kita.

 

Lantas bagaimana para ahli filsafat menterjemahkan makna kemerdekaan?. Bicara tentang kemerdekaan, banyak orang langsung mengaitkannya dengan bebas dari penjajahan.

 

Ternyata, dalam perspektif filsafat, makna kemerdekaan jauh lebih dalam. Para filsuf sejak zaman Yunani hingga era modern sepakat bahwa kebebasan adalah bagian dari hakikat manusia itu sendiri.

 

Bukan Sekadar Bebas Tanpa Batas

Socrates, Plato, hingga Aristoteles melihat bahwa manusia merdeka karena mampu berpikir dan memilih. Namun, kebebasan bukan berarti bisa melakukan apa saja sesuka hati. Aristoteles menegaskan, kemerdekaan baru berarti bila dijalankan dalam kerangka etika—untuk kebaikan bersama, bukan sekadar kepentingan pribadi.

 

Terlahir Bebas

Filsuf modern seperti Jean-Jacques Rousseau menyebut manusia “terlahir bebas”. Meski begitu, kebebasan tetap terikat pada kesepakatan sosial. Sementara Immanuel Kant menambahkan, kebebasan adalah kemampuan manusia untuk menggunakan akal budinya, bukan hanya mengikuti hawa nafsu atau tekanan dari luar.

 

Anugerah Sekaligus Tanggung Jawab

Bagi filsuf eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre, kemerdekaan adalah anugerah sekaligus tanggung jawab. Manusia memang bebas, tapi kebebasan itu menuntut keberanian untuk memilih dan siap menanggung konsekuensinya.

 

Pelajaran untuk Kita Semua

Dalam kehidupan berbangsa, kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajah. Lebih dari itu, kemerdekaan adalah kesempatan membangun masyarakat yang adil, bermartabat, dan menghargai sesama. Filsafat mengajarkan bahwa kebebasan sejati harus diiringi dengan kesadaran moral serta tanggung jawab sosial.

 

Dengan kata lain, kemerdekaan bukan sekadar simbol atau seremonial. Ia adalah ruang bagi setiap manusia untuk mengembangkan diri, berkontribusi, dan mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

 

Imam Setiadi – Media Duta Indonesia

Penulis: Imam Setiadi Editor: Dudung
WWW.MDI.NEWS