MDI.NEWS | Tokoh – Indonesia pernah melalui masa kelam pada 30 September 1965, saat tragedi G30S menewaskan tujuh pahlawan revolusi di Lubang Buaya akibat keganasan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam film dokumenter G30S/PKI, terlihat bagaimana massa melakukan penyiksaan hingga sebagian menyanyikan lagu Genjer-genjer.
Lagu tersebut kerap dikaitkan dengan peristiwa berdarah itu. Padahal, penciptanya, Muhammad Arief asal Banyuwangi, menulis Genjer-genjer pada 1942 sebagai simbol penderitaan rakyat di masa pendudukan Jepang, ketika sayur genjer menjadi makanan sehari-hari. Lagu itu kemudian populer, direkam Irama Record, bahkan dinyanyikan Bing Slamet dan Lilis Suryani, sebelum akhirnya dilarang di era Orde Baru.
Arief sendiri aktif di dunia seni, sempat bergabung dengan Pesindo, lalu menjadi Ketua Bidang Kesenian Lekra. Namun pasca meletusnya G30S, ia ikut terseret stigma. Baru lima hari kembali ke Banyuwangi usai mengurus visa ke China, rumahnya di Temenggungan dihancurkan massa.
Putranya, Sinar Syamsi, mengenang hanya sempat menyelamatkan tiga buku tulis dari puing-puing rumah. “Bapak saya dicap komunis, padahal beliau rajin beribadah dan beragama Islam yang taat,” ujarnya.
Syamsi pun pernah diterima sebagai tentara pada 1975, namun tiba-tiba dicoret dari daftar, diduga karena latar belakang ayahnya. Kisah getir ini menegaskan bagaimana sejarah kelam masih membekas pada keluarga pencipta lagu Genjer-genjer.(Dari berbagai sumber)
Dudung – Media Duta Indonesia







