width=
width=

Gelora Pemuda Asia, Asian Youth Games Bahrain 2025 Bangkit dengan Semangat Baru

Foto : Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Erick Thohir, secara resmi melepas Tim Nasional Indonesia ke 3rd Asian Youth Games (AYG)/ Sumber : Situs Resmi/Kemenpora.go.id

MDINEWSJakarta – Kota Manama dan sekitarnya di Kerajaan Bahrain kini menjadi pusat perhatian dunia olahraga muda Asia. Perhelatan 3rd Asian Youth Games yang berlangsung dari 22 hingga 31 Oktober 2025 menyatukan sekitar 45 negara dan lebih dari 4.000 atlet muda dalam ajang multi-cabang yang menampilkan 26 olahraga dan 260 nomor lomba.

Acara ini bukan hanya sekadar kompetisi, melainkan panggung pembinaan generasi penerus atlet Asia dalam semangat “Inspire Dreams, Build a Legacy”. Bahrain sebagai tuan rumah menghadirkan sejumlah lokasi kompetisi megah, mulai dari Exhibition World Bahrain hingga Royal Golf Club di Zallaq.

Sorotan publik Indonesia pun meningkat ketika para atlet muda Tanah Air diturunkan ke medan tempur. Meskipun belum memperoleh dominasi medali, kehadiran kontingen Indonesia menjadi bagian dari upaya regenerasi dan pengembangan potensi olahraga nasional. Di lapangan golf, misalnya, atlet asal India gagal menyaingi dominasi Cina, namun hal tersebut tetap menunjukkan bagaimana persaingan generasi muda semakin sengit di skala Asia.

Bahrain berhasil menghadirkan format pertandingan modern sekaligus pengalaman digital yang memikat. Pertandingan e-esports mengambil peran baru dalam perhelatan ini—menandai bahwa olahraga generasi muda kini melampaui ranah fisik semata. Salah satu momen bersejarah tercipta ketika atlet wanita Arab Saudi, Tala Al Mazroa, menjadi peraih medali emas pertama negaranya dalam e-Football di ajang ini.

Para pelatih dan pembina olahraga asia menyebut bahwa Asian Youth Games Bahrain 2025 adalah titik balik dalam paradigma kompetisi muda. Kompetisi tidak hanya tentang siapa tercepat atau terkuat, tapi tentang siapa yang mampu menjawab tantangan global: inklusi, teknologi, dan inovasi olahraga. Untuk Indonesia, momentum ini menjadi peluang evaluasi dan pembuktian bahwa pembinaan atlet muda perlu diperkuat agar mampu bersaing secara kontinental.

Sebelum medali dan penghargaan, nilai utama ajang ini adalah pengalaman, jejaring regional, dan motivasi bagi atlet muda untuk naik ke panggung utama Asia dan dunia. Saat Bahrain menutup tirai perlombaan pada 31 Oktober, catatan prestasi akan terukir—tapi semangat “pemuda Asia berkumpul” adalah warisan yang akan dibawa lebih jauh.

WWW.MDI.NEWS