MDI.NEWS | Politik – ProJo bermula sebagai gerakan relawan yang aktif mendukung perjalanan politik Joko Widodo sejak ia mencuat sebagai pemimpin daerah hingga menjadi calon presiden. Inisiatif ini mulai dibentuk pada 2013–2014 oleh para relawan sipil yang mengorganisir dukungan di tingkat akar rumput, dan kemudian pada 23 Agustus 2014 ProJo menggelar kongres pertama yang menandai transformasinya dari gerakan relawan menjadi organisasi kemasyarakatan resmi. Pendiri dan tokoh sentral yang kerap dikaitkan dengan ProJo adalah Budi Arie Setiadi, yang menjadi salah satu penggerak organisasi sejak awal.
Pada pemilu 2014 dan 2019, ProJo dikenal sebagai salah satu relawan darat terbesar yang berperan dalam mobilisasi dukungan massal bagi Jokowi. Keberhasilan gerakan ini pada dua periode itu memperkuat citra ProJo sebagai kekuatan relawan yang efektif dalam politik elektoral.
Perkembangan terakhir memperlihatkan transformasi organisasi: dalam beberapa tahun belakangan ProJo mengkonsolidasikan struktur organisasi formalnya (terdaftar sebagai ormas) dan juga mengalami pergeseran sikap publik serta arah politik yang menimbulkan perdebatan—termasuk perubahan simbol/identitas organisasi dan penegasan bahwa nama ProJo tak lagi dimaknai semata-mata sebagai akronim “Pro-Jokowi”. Pada 2024–2025 ProJo juga tercatat mengambil sikap politik yang berbeda dibandingkan posisi awalnya, yang menjadi bahan perbincangan publik dan media.
Secara etimologis, istilah ProJo berasal dari dua kata: Pro (mendukung/berpihak) dan Jo (kependekan dari Jokowi). Pada fase awal, nama itu memuat makna dukungan politik sekaligus simbol idealisme kerakyatan yang dibawa Jokowi: kesederhanaan, kerja nyata, dan keberpihakan pada rakyat kecil.
Secara ideologis, ProJo pada mulanya tampil sebagai gerakan moral dan relawan yang menolak praktik politik uang dan oligarki; ia menjadi simbol aspirasi perubahan publik terhadap tata kelola pemerintahan.
Seiring berjalannya waktu dan perubahan peta politik, organisasi relawan seperti ProJo menghadapi dilema: mempertahankan idealisme atau menyesuaikan diri dengan realitas kekuasaan dan kepentingan politik yang lebih luas. Kalangan akademisi menilai fenomena ini adalah bagian dari dinamika politik: gerakan relawan yang lahir dari semangat moral sering diuji ketika harus mengelola hubungan dengan kekuasaan formal. Jika tidak menjaga jarak dengan kekuasaan, idealisme mudah tergerus pragmatisme politik.
Meski demikian, di tingkat akar rumput masih ditemukan relawan yang setia pada nilai awal ProJo — menjadikan organisasi ini tetap kompleks: bukan sekadar monolit pro atau kontra, melainkan kumpulan aktor dengan orientasi dan motivasi yang beragam.
Dinamika ProJo mencerminkan wajah politik Indonesia yang bergerak dan berubah. Sejarahnya dari gerakan relawan yang mengakar sampai berubah menjadi ormas yang berwajah lebih formal mengajarkan satu hal: organisasi politik relawan harus terus menguji identitasnya agar tidak kehilangan ruh moral yang menjadi alasan kelahirannya. Masa lalu memberi teladan; masa kini menuntut kebijaksanaan untuk menjaga nilai agar tidak larut dalam pragmatisme.
Redaksi MDI.NEWS
(Sumber: Wikipedia, Tempo, Detik, CNNIndonesia, dan lain-lain)







