MDINEWS | Jakarta – Festival Film Indonesia (FFI) 2025 tengah mematangkan persiapan menuju malam puncak Piala Citra yang dijadwalkan berlangsung pada 20 November. Tahun ini menjadi edisi spesial karena bertepatan dengan peringatan tujuh dekade penyelenggaraan FFI sejak pertama kali digelar pada 1955.
Dengan mengangkat tema “Puspawarna Sinema Indonesia”, ajang penghargaan tertinggi bagi insan film nasional itu menekankan keberagaman karya sebagai cerminan dinamika perfilman masa kini. Variasi genre, latar budaya, hingga pendekatan penceritaan disebut sebagai warna yang memperkaya produksi film Indonesia beberapa tahun terakhir. Antusiasme itu tampak dari jumlah pendaftar yang mencapai 794 film hingga penutupan masa registrasi.
FFI 2025 juga melakukan penyempurnaan dalam sistem penjurian. Proses seleksi awal dikerjakan oleh 80 anggota Akademi Citra, dilanjutkan oleh penilaian dari belasan asosiasi profesi di industri film. Tahap akhir dilakukan oleh Dewan Juri melalui pemutaran langsung di bioskop untuk memastikan penilaian lebih objektif. Untuk pertama kalinya, film animasi panjang dapat bersaing di kategori utama Film Cerita Panjang, menandai perluasan ruang bagi kreator animasi lokal.
Ketua pelaksana, Prilly Latuconsina, menyebut bahwa rangkaian “Road to FFI” tahun ini diperlebar ke berbagai daerah, termasuk Aceh, Bali, dan Palangkaraya. Agenda tersebut bertujuan mempererat kolaborasi serta menjaring talenta daerah yang berpotensi memperkaya industri.
Sementara itu, film Jumbo telah mengamankan penghargaan awal melalui Piala Antemas setelah mencatat jumlah penonton terbanyak, melewati 10 juta penonton nasional. Di sisi lain, Komite FFI menjawab berbagai sorotan publik terkait nominasi demi menjaga transparansi dan kredibilitas ajang tersebut.
Dengan momentum 70 tahun perjalanan, FFI 2025 diharapkan menjadi ruang apresiasi sekaligus refleksi atas kemajuan sinema Indonesia yang terus berkembang pesat.







