MDI.NEWS | Tokoh – Manuver kubu Roy Suryo menghadirkan Prof. Henri Subiakto sebagai saksi ahli dalam pusaran kasus dugaan ijazah palsu Jokowi langsung mengguncang peta politik. Bukan hanya karena Henri seorang akademisi senior, tetapi karena dialah sosok yang dulu dikenal sebagai pembela paling militan Presiden Joko Widodo. Dan kini, ia berdiri di barisan yang justru mengkritik tajam presiden ke-7 itu.
Di tengah status tersangka yang disandang Roy Suryo, Rismon Hasiholan Sianipar, dan dokter Tifauzia Tyassuma—meski belum ditahan—tim hukum terus mengajukan saksi tambahan. Nama Henri menjadi kejutan terbesar.
Akademisi Berpengaruh, Kini Berada di Jalur Tak Terduga
Henri Subiakto bukan figur sembarangan dalam dunia komunikasi dan kebijakan publik. Lahir di Yogyakarta pada 29 Maret 1963, ia mengantongi dua gelar S-1 sekaligus—Komunikasi UGM dan Hukum UII—melanjutkan S-2 Komunikasi di UI, lalu menyelesaikan S-3 Ilmu Sosial di Unair. Mengajar sejak 1987, dikukuhkan sebagai guru besar pada 2016, dan menjadi salah satu rujukan utama dalam isu komunikasi digital dan regulasi media.
Dengan reputasi akademik yang solid, setiap pernyataan Henri memiliki bobot politik. Dan inilah yang membuat langkah kubu Roy Suryo dinilai berani sekaligus strategis.
Dulu “The Guardian of Jokowi”, Kini Pengkritik Terdepan
Pada Pemilu 2014, Henri adalah seorang pendukung garis keras Jokowi. Ia menyebut Jokowi sebagai simbol kesederhanaan, anti-arogansi, dan harapan baru demokrasi Indonesia. Narasinya keras, pembelaannya tak setengah-setengah. Media bahkan menyematkan julukan “The Guardian of Jokowi.”
Namun tak butuh waktu satu dekade bagi narasi itu berbalik arah.
Henri mulai menyuarakan kekecewaan terhadap sejumlah kebijakan Jokowi—mulai dari kontroversi Esemka, isu dinasti politik, hingga keputusan-keputusan yang dinilai menjauhi janji awal pemerintahan. Kritiknya tidak lagi terselip; ia menyampaikannya terang-terangan dan tanpa basa-basi.
Kini Berpindah Haluan di Momen Paling Sensitif
Ketika isu ijazah Jokowi mencuat dan menyeret Roy Suryo ke meja penyidikan, kehadiran Henri sebagai saksi ahli justru memperkeras tensi. Sosok yang dulu membentengi Jokowi kini tampil memberikan keterangan di pihak yang mempertanyakan kredibilitas sang presiden.
Bagi banyak pengamat, ini bukan sekadar perubahan sikap. Ini adalah pesan politik yang sangat kuat:
bahwa figur yang pernah berada di lingkar pembela justru menjadi suara kritis dari luar.
Henri Subiakto kini berdiri di tempat yang tak pernah dibayangkan pada 2014—di sisi pihak yang menantang narasi resmi negara.
Transformasinya menandai betapa cepat dan drastisnya dinamika politik Indonesia dapat berubah. Dan publik tentu menunggu: sejauh apa kesaksian Henri akan memengaruhi kasus yang paling sensitif dalam sejarah politik Indonesia kontemporer ini.
Dudung For MDI NEWS







