MDI.NEWS | Kisah Inspirasi – Dunia musik modern menyimpan banyak kisah besar, namun hanya sedikit yang seikonis perjalanan hidup Phil Collins, sosok musisi yang awalnya bahkan tidak ingin menjadi vokalis. Kisahnya menjadi pengingat bahwa potensi terbesar seseorang kadang tersembunyi di tempat yang tidak pernah disangka.
Perjalanan itu dimulai ketika Peter Gabriel hengkang dari Genesis. Band tersebut panik dan mengadakan audisi besar-besaran, menguji 400 vokalis tanpa hasil. Sampai akhirnya muncul sebuah gagasan yang tak terpikirkan sebelumnya: “Bagaimana dengan Phil?”
Collins menolak. “Saya drummer. Itu yang saya lakukan,” ujarnya kala itu. Namun setelah didesak, Collins maju sebagai kandidat. Hasilnya mengejutkan dan dialah suara yang selama ini dicari Genesis.
Album A Trick of the Tail menjadi debut Phil sebagai vokalis utama. Banyak penggemar bersiap menghadapi bencana, namun yang terjadi justru sebaliknya: Genesis memasuki era baru yang lebih hangat, emosional, dan penuh tenaga.
Puncak Karier Solo dan Fenomena Musik Dunia
Selepas perceraian pahit pada 1981, Collins menyalurkan seluruh emosinya ke dalam album solo perdananya, Face Value. Dari sana lahirlah mahakarya In the Air Tonight, salah satu lagu paling berpengaruh dalam sejarah musik.
Karier solonya melejit sepanjang dekade 80-an. Collins mencetak hit demi hit, mulai dari “Against All Odds,” “One More Night,” “Sussudio,” hingga “Another Day in Paradise.”
Antara 1982–1990, tidak ada artis yang lebih sering masuk Top 40 AS selain dirinya justru bahkan melampaui Madonna dan Michael Jackson. Ia meraih Grammy, Brit Awards, hingga Oscar. Penjualan rekamannya menembus lebih dari 100 juta kopi sebagai solois dan 100 juta lainnya bersama Genesis, menempatkannya di jajaran legenda seperti Paul McCartney dan Michael Jackson.
Pada Live Aid 1985, Collins mencatat sejarah dengan tampil di dua benua dalam hari yang sama: Wembley (London) dan JFK Stadium (Philadelphia), berkat pesawat supersonik Concorde.
Ketika Tubuh Mulai Rapuh, Jiwa Musiknya Tetap Menyala
Puluhan tahun memegang drum menghancurkan saraf tangan dan merusak tulang belakangnya. Pada 2011, Collins pensiun dengan hati hancur. Namun dunia musik belum selesai dengannya.
Pada 2017, ia kembali melalui tur “Not Dead Yet”. Terlalu rapuh untuk bermain drum, ia bernyanyi sambil duduk, sementara sang putra Nic menjadi drummer pengganti. Dunia menyambutnya dengan haru.
Puncak emosional terjadi pada 2021 ketika Genesis reuni untuk terakhir kalinya melalui tur “The Last Domino?”. Collins tampil dalam kondisi ringkih, namun semangatnya tetap membara, sebuah salam perpisahan bagi era keemasan musik rock progresif.
Legenda yang Tidak Pernah Berniat Menjadi Bintang
Phil Collins tidak pernah bercita-cita menjadi vokalis, apalagi superstar. Ia hanya ingin menjadi drummer. Namun takdir berkata lain:
Ia menjadi detak jantung Genesis
Diakui sebagai salah satu drummer terbesar sepanjang masa
Bertransformasi menjadi salah satu artis solo tersukses dalam sejarah
Menjadi suara yang mendefinisikan satu dekade penuh
Menjadi soundtrack bagi kehidupan jutaan orang
Semuanya berawal dari sebuah fakta sederhana: suara yang dicari Genesis ternyata telah duduk di belakang drum selama ini.
Pelajaran Hidup dari Phil Collins
Kisah Collins adalah pengingat bahwa hidup penuh kejutan. Kadang, pintu-pintu besar terbuka dari arah yang tidak pernah kita rencanakan.
Jika hari ini kita merasa pesimis atau merasa tidak punya masa depan, kisah Phil Collins mengajarkan:
potensi terbesar sering tersembunyi di dalam diri kita sendiri.
Selama kita mau berusaha, Tuhan selalu menyediakan jalan.
Phil Collins tidak pernah berniat menjadi legenda.
Namun ia menjadi salah satu yang terbesar sepanjang masa.
Dan siapa yang tahu kisahmu bisa jadi berikutnya.
#mdinewsinspiratif







