width=
width=

Peran Wartawan di Tengah Negeri yang Mengabaikan Keadilan

Oplus_0

MDI.NEWS | Sorot Kasus – Di saat nilai-nilai keadilan semakin tergerus oleh kepentingan kekuasaan dan modal, peran wartawan menjadi jauh lebih penting dari sekadar penyampai informasi. Wartawan hadir sebagai penjaga nurani publik, penegak kebenaran, dan pengawal kepentingan rakyat yang sering kali tidak memiliki suara.

Ketika hukum tidak lagi berdiri tegak, dan kebijakan publik menjauh dari rasa keadilan, pers tidak boleh ikut tunduk. Justru di situlah wartawan diuji: apakah akan memilih aman bersama kekuasaan, atau jujur bersama kebenaran.

Wartawan memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan fakta apa adanya. Bukan fakta versi penguasa, bukan pula fakta yang telah disaring demi kenyamanan elite.

 Kebenaran sering kali pahit, namun hanya dengan kebenaranlah sebuah bangsa dapat bercermin dan memperbaiki diri.

Dalam kondisi ketidakadilan, wartawan juga berperan sebagai suara bagi mereka yang terpinggirkan. Rakyat kecil yang terdampak kebijakan zalim, korban penggusuran, perusakan lingkungan, ketimpangan hukum—semua itu membutuhkan ruang agar kisah mereka tidak tenggelam oleh hiruk-pikuk pencitraan.

Selain itu, pers berfungsi sebagai watchdog kekuasaan. Mengawasi, mengkritisi, dan bila perlu membongkar penyalahgunaan wewenang. Bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengingatkan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak mutlak tanpa batas.

Namun, menjalankan peran ini menuntut integritas tinggi. Wartawan harus menjaga independensi, menolak suap dan pesanan berita, serta memisahkan fakta dari opini. Tanpa integritas, pers akan berubah dari pilar demokrasi menjadi alat propaganda.

Di sisi lain, wartawan juga dituntut menjaga etika dan kemanusiaan. Kritik harus berbasis data, bukan fitnah. Keberpihakan harus kepada kebenaran, bukan kebencian. Sebab keadilan tanpa etika hanya akan melahirkan kekacauan baru.

Sejarah mencatat, banyak perubahan besar lahir dari keberanian wartawan yang memilih jujur meski menghadapi risiko. Intimidasi, kriminalisasi, hingga pengucilan sering menjadi harga yang harus dibayar. Namun diam di hadapan ketidakadilan adalah pengkhianatan terhadap profesi itu sendiri.

Pada akhirnya, di negeri yang tidak menjunjung nilai-nilai keadilan, wartawan bukan sekadar pencatat peristiwa.

Wartawan adalah penjaga nurani bangsa. Jika hukum gagal memberi rasa adil, maka pers yang jujur menjadi harapan terakhir rakyat.

Husni Solihin

Penulis: Husni Solihin Editor: Dudung
WWW.MDI.NEWS