width=
width=

Madrid Kalah, Mental Juaranya Dipertanyakan

MDI.NEWS, Lisbon —- Kekalahan Real Madrid dari Benfica 2 – 4 di Liga Champions, Rabu (29/1/2026) dini hari WIB, bukan sekadar cerita tentang skor akhir. Hasil pertandingan yang berlangsung di Estádio da Luz itu justru membuka persoalan yang lebih mendasar: mental juara Madrid kembali dipertanyakan ketika menghadapi tekanan di level tertinggi Eropa.

Datang dengan status raksasa dan skuad bertabur bintang, Madrid sejatinya memiliki semua modal untuk mengendalikan pertandingan. Namun, di atas lapangan, Benfica tampil jauh lebih berani dan agresif. Bermain di hadapan pendukung sendiri, mereka menekan sejak awal dan menunjukkan bahwa determinasi serta keberanian sering kali lebih menentukan ketimbang nama besar.

Madrid sempat menunjukkan kualitas individu yang mereka miliki. Namun keunggulan tersebut tidak diiringi konsistensi permainan. Ketika Benfica meningkatkan intensitas, Los Blancos justru kehilangan kendali. Alih-alih mengatur tempo dan meredam tekanan, Madrid terjebak dalam ritme cepat yang diinginkan tuan rumah.

Di titik ini, pengalaman panjang di Liga Champions seolah tak memberi dampak berarti.

Masalah paling mencolok terlihat di lini pertahanan. Koordinasi yang rapuh, transisi yang lambat, serta pengambilan keputusan yang kurang tenang membuat Benfica leluasa menciptakan peluang.

Dalam kompetisi sekelas Liga Champions, kesalahan kecil hampir selalu berujung hukuman — dan Madrid merasakannya sepanjang laga.

Namun kekalahan ini tidak semata-mata soal taktik dan teknis permainan. Ada persoalan mental yang lebih mengkhawatirkan. Mental juara sejati tercermin dari ketenangan saat berada di bawah tekanan dan kemampuan mengelola situasi sulit.

Benfica menunjukkan rasa lapar dan keyakinan, sementara Madrid terlihat reaktif dan kehilangan kontrol di momen krusial.

Pernyataan keras dari salah satu pemain kunci Madrid usai laga turut mempertegas masalah tersebut. Kritik internal itu mencerminkan bahwa persoalan utama Madrid bukan kualitas individu, melainkan sikap dan konsistensi dalam pertandingan besar.

Liga Champions adalah panggung tanpa kompromi. Sejarah dan deretan trofi masa lalu tidak memberi jaminan apa pun. Kekalahan dari Benfica pada 29 Januari 2026 dini hari WIB seharusnya menjadi alarm serius bagi Real Madrid untuk berbenah, bukan hanya dalam strategi permainan, tetapi juga dalam membangun kembali mentalitas juara yang selama ini menjadi identitas mereka.

(Sumber : ANTARA News)

 

 

Penulis: Imam Setiadi Editor: Redaksi
WWW.MDI.NEWS