Kebangkitan peradaban Islam tidak pernah lahir dari retorika semata. Ia selalu berangkat dari pendidikan manusia, terutama pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk karakter dan adab. Dalam konteks Indonesia, pendidikan berasrama—terutama pesantren dan boarding school Islam—memiliki peran strategis yang sering kali luput dari perhatian serius negara dan masyarakat.
Sejarah Islam membuktikan bahwa peradaban besar lahir dari lembaga pendidikan yang hidup 24 jam. Masjid Nabawi pada masa Rasulullah SAW bukan hanya tempat shalat, tetapi juga pusat pendidikan, pembinaan karakter, dan kaderisasi pemimpin. Tradisi ini berlanjut dalam bentuk ribath, zawiyah, dan madrasah berasrama di dunia Islam klasik.
Indonesia memiliki warisan itu dalam bentuk pesantren. Bukan kebetulan jika pesantren menjadi pilar utama Islam moderat dan nasionalisme keagamaan di negeri ini. Pendidikan berasrama memungkinkan integrasi yang sulit dicapai oleh sekolah biasa: iman, ilmu, dan adab tumbuh bersamaan.
Masalah utama umat Islam hari ini bukan kekurangan orang pintar, melainkan kelangkaan manusia beradab. Banyak yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral. Di sinilah keunggulan pendidikan berasrama. Hidup bersama dalam disiplin harian melatih kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, dan empati—nilai-nilai yang tidak cukup diajarkan lewat ceramah di kelas.
Ulama besar Nusantara telah lama menekankan pentingnya adab dalam pendidikan. KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kerusakan. Sementara KH. Ahmad Dahlan menekankan bahwa pendidikan harus melahirkan manusia yang berguna bagi masyarakat, bukan sekadar pandai berbicara.
Pendidikan berasrama juga berperan penting dalam kaderisasi kepemimpinan. Asrama adalah miniatur masyarakat: ada aturan, konflik, musyawarah, dan tanggung jawab. Santri belajar memimpin dan dipimpin. Ini adalah modal sosial penting bagi bangsa yang sedang mengalami krisis kepemimpinan dan etika publik.
Di era digital, peran pendidikan berasrama menjadi semakin relevan. Ketika anak-anak dan remaja terpapar gawai tanpa batas, asrama dapat menjadi benteng moral dan ruang literasi digital beretika. Teknologi tidak ditolak, tetapi diarahkan agar menjadi alat kemajuan, bukan sumber kerusakan.
Lebih jauh, banyak pesantren kini mengembangkan unit usaha, koperasi, dan pertanian. Ini bukan sekadar ekonomi, tetapi pendidikan kemandirian. Peradaban tidak akan bangkit jika umat hanya menjadi konsumen, bukan produsen.
Dalam konteks Indonesia yang plural dan demokratis, pendidikan berasrama berperan menjaga Islam yang ramah, moderat, dan cinta tanah air. Pesantren membuktikan bahwa kesalehan beragama dapat berjalan seiring dengan komitmen kebangsaan.
Kebangkitan peradaban Islam Indonesia tidak akan lahir dari proyek instan. Ia menuntut investasi jangka panjang pada manusia. Pendidikan berasrama—jika dikelola dengan visi keislaman dan keindonesiaan yang matang—adalah salah satu jalan paling realistis untuk menyiapkan generasi beriman, berilmu, dan beradab.
Dan di situlah generasi yang agamais, nasionalis, dan berjiwa bisnis serta masa depan peradaban sedang disemai—di ruang-ruang asrama, dalam disiplin harian, dan dalam keteladanan para pendidik.

