MDI.NEWS, Jakarta — Film terbaru karya Joko Anwar berjudul Ghost in the Cell mencatat antusiasme tinggi saat pemutaran perdana dunia dalam ajang Berlin International Film Festival atau Berlinale 2026 di Berlin pada 14 Februari 2026.
Seluruh tiket pemutaran film tersebut dilaporkan ludes terjual sebelum festival dimulai. Tingginya minat penonton internasional menandai ekspektasi besar terhadap karya terbaru sineas Indonesia tersebut.
Film bergenre horor komedi satir ini dipilih masuk program Forum, sebuah kurasi yang dikenal menampilkan film berani secara artistik dan memiliki sudut pandang sosial-politik kuat. Selama festival berlangsung pada 13–22 Februari 2026, film ini dijadwalkan tampil dalam empat sesi pemutaran.
Suasana meriah terasa sejak awal pemutaran perdana. Tepuk tangan panjang dan respons antusias terdengar hingga sesi diskusi bersama pembuat film setelah penayangan berakhir.
Sejumlah penonton internasional menilai film ini berhasil memadukan humor, ketegangan, dan kritik sosial secara efektif. Mereka menyebut karya tersebut sebagai tontonan yang menghibur sekaligus menyentil realitas sosial.
Joko Anwar menyampaikan bahwa film ini dirancang sebagai hiburan yang tetap meninggalkan refleksi. Ia menegaskan tujuan film tidak hanya membuat penonton tertawa dan tegang, tetapi juga memicu pemikiran setelah menonton.
“Kami ingin membuat film yang menghibur, tetapi setelah selesai menonton akan ada pemikiran yang tertinggal tentang situasi hidup di Indonesia,” kata Joko Anwar.
Dalam proyek ini, sang sutradara kembali mengeksplorasi horor supernatural dengan pendekatan yang berbeda. Ia menempatkan pendalaman karakter sebagai fokus utama, bukan sekadar membangun atmosfer melalui set dan efek.
Menurutnya, film ini menjadi salah satu karya paling menghibur sekaligus reflektif sepanjang kariernya. Perpaduan horor, komedi, dan satire sosial dinilai menjadi kekuatan utama yang membedakan film tersebut.
Produser Tia Hasibuan mengungkapkan rasa lega atas respons positif dari audiens global. Ia menilai kisah yang berakar pada realitas Indonesia ternyata tetap relevan bagi penonton dari berbagai negara.
Film ini diproduksi oleh Come and See Pictures, rumah produksi yang didirikan Joko Anwar dan Tia Hasibuan pada 2020. Perusahaan tersebut dikenal konsisten menghadirkan karya dengan pendekatan cerita yang unik.
Sebelumnya, rumah produksi ini terlibat dalam film Pengabdi Setan 2: Communion, serial Nightmares and Daydreams untuk Netflix, serta film Pengepungan di Bukit Duri yang digarap bersama Amazon MGM Studios.
Film “Pengepungan di Bukit Duri” meraih lima Piala Citra di Festival Film Indonesia 2025 serta penghargaan di Festival Film Pilihan Tempo. Joko Anwar juga memperoleh gelar Chevalier dari Ordre des Arts et des Lettres atas kontribusinya di dunia perfilman.
Berlatar kehidupan penjara di Indonesia yang sarat kekerasan dan ketidakadilan, film ini memadukan horor dan kritik sosial untuk menyoroti sistem yang melindungi kekuasaan. “Ghost in the Cell” dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 16 April 2026. (***)







