width=
width=

Media Seyogianya Mengedukasi, Bukan Memprovokasi… Tingkatkan Literasi, Jaga Persatuan Bangsa!!

Foto: Ilustrasi Framing Media (sumber:tvreport.co.kr)

MDI NEWS | JAKARTA, – Mengapa media melakukan kebohongan publik?

Oleh CAM

“Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada penghianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidlah turut bicara.” Lalu beliau ditanya, “Apakah Ruwaibidlah itu ?” Beliau menjawab, “Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum.”

(HR. Ibnu Majah No.4036)

Ini adalah jaman saat kaum muslim sedang terpangkas dari tradisi intelektualnya sehingga mudah diadu domba.

Lima toko buku yang tutup permanen (Gunung Agung, Books and Beyond, Togamas, Kinokuniya, dan Aksara) adalah indikator tingkat literasi bangsa kita yang rendah. Apakah minat baca Indonesia yang berada di peringkat 60 dari 61 negara menyebabkan masyarakat kita mudah disulut emosi mendengar berita bohong terutama menjelang pemilu? Di Indonesia dari 1.000 orang hanya 1 yang rajin membaca itulah survei yang dilakukan oleh UNESCO.

Bahasa dapat mempengaruhi persepsi cara pandang kita terhadap suatu berita dan orang tertentu yang ditulis oleh media. Jurnalis yang sejati hanya menuliskan fakta!

Namun apa yang terjadi Jika media melakukan kebohongan publik secara sengaja dalam waktu lama seperti yang telah disebarkan oleh TVONE terhadap Ma’had Al-Zaytun?

Mengapa awak media seperti TVONE dan Tribun melakukan framing, manipulasi informasi, serta memutar balikkan fakta yang artinya tidak jujur pada hati nuraninya sendiri?

Inikah yang namanya pembodohan masyarakat dan kejahatan sosial?

Saya sebagai Wali Santri dua santri Nisa kelas 8 dan 10 di Ma’had Al-Zaytun merasa dirugikan dengan semua panah fitnah ini, sekaligus kasihan dengan masyarakat yang mempercayai informasi hanya dari TV dan YouTube hoax saja. Dan dengan mudahnya membagi berita hoax di media sosial, tanpa mengerti dampak bagi dirinya sendiri. Ingat ada yang namanya hukum tabur tuai, semua yang kita tabur di dunia akan kita tuai di akhirat.

Manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh emosinya, kecuali mereka yang telah melatih akal sehat dan logika berpikirnya.

Dan tidakkah masyarakat curiga, kenapa TVONE berulang kali menampilkan Ken Setiawan yang menuduh para santri melakukan perbuatan keji tanpa bukti ? Sedangkan orang yang menuduh laki-laki dan perempuan baik-baik tanpa bukti, maka kesaksiannya tidak boleh diterima selama-lamanya. Seperti yang pernah dialami oleh Bunda kaum Mukminin Aisyah r.a. Namanya dibersihkan Allah SWT melalui Al Qur’an surat An- Nur ayat 11-22.

Ucapan Ken adalah perbuatan yang menghina martabat sesama manusia! Apakah Ken Setiawan, kawan-kawannya dan awak media suka jika istri dan anak perempuan Anda dituduh di depan publik melakukan perbuatan asusila ??

Masyarakat kita pun ada yang ikut-ikutan berbuat demikian. Dengan mudah jempolnya klik dan share info hoax. Apakah Anda menyangka kata-kata itu ringan? Percayalah kata-kata pun berat timbangannya.

Bahasa menjadi kunci penting bagi penentu kualitas kemanusiaan. Bijaksanalah dalam melihat fenomena sosial yang bisa jadi untuk menutupi berita yang seharusnya diketahui publik, seperti berita kasus korupsi dan hilangnya Rp 349 Triliun yang tiba-tiba berubah menjadi berita lembaga pendidikan yang dilabeli dengan hal negatif.

Tidakkah Anda berpikir, Apa yang sebenarnya terjadi dengan pers kita setiap menjelang tahun politik?

Jum’at, 23 Juni 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WWW.MDI.NEWS