MDI.NEWS | Kota Bekasi – Aktivis toleransi bersama Majelis Pemuda dan Perdamaian (MPP) menggelar buka puasa bersama di Kantor Sekretariat DPP AsMEN, Jalan Puncak, Cikunir No.14 Jakasampurna, Kota Bekasi, pada Minggu (1/3/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi sekaligus ruang dialog dalam memperkuat komitmen kebangsaan di bulan suci Ramadan.
Acara dihadiri Ketua Umum MPP, Imamudinnusalam, Sekjen Fahmi, Bendahara Rif’at Naufal Hilmi, Divisi Kesejahteraan Difa Alamsyah, Aktivis toleransi Achmad Fanani, serta Dewan Pakar Media Sastra Suganda. Kehadiran para tokoh ini menambah bobot diskusi yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban.
Acara berlangsung hangat karena diisi dengan diskusi kebangsaan dan pembahasan sejumlah program strategis yang berkaitan dengan penguatan nilai-nilai toleransi, kesetaraan, serta perdamaian di tengah masyarakat yang majemuk.
Dalam arahannya, Sastra Suganda menekankan pentingnya membangun kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis, mengingat Indonesia merupakan negara yang sangat pluralistik, terdiri dari berbagai agama, suku, bahasa, dan budaya.
Menurutnya, keberagaman harus menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.
“Aktivis toleransi dan MPP punya kesamaan yaitu, menyuarakan toleransi dan perdamaian, maka kita harus menjadi teladan dalam melaksanakan nilai-nilai dasar negara Pancasila pada tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” ujar Sastra yang juga dikenal sebagai wartawan senior.
Sementara itu, Achmad Fanani lebih menyoroti bagaimana agar kota-kota toleran seperti Bekasi, Magelang, dan Denpasar dapat menularkan spirit nilai toleransi dan kesetaraan ke kota-kota lainnya di Indonesia. Ia menilai, praktik baik yang sudah berjalan perlu direplikasi secara sistematis.
“Bekasi, Magelang, Denpasar adalah beberapa contoh kota yang minim tindakan intoleransi dan berbagai kasus yang menyangkut hak asasi manusia,” katanya.
Menyambung pemaparan Achmad Fanani, Ketua Umum MPP Imamudinnusalam mengurai sejumlah solusi agar nilai-nilai toleransi dan perdamaian tetap terjaga di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
“Salah satu cara agar semangat hidup bertoleransi tetap terjaga adalah dengan pendidikan sejak dini. Diawali dari keluarga, saling menghormati sesama anggota keluarga. Orang tua juga harus memberi teladan bagaimana hidup berdampingan sebagai bagian dari masyarakat yang rukun dan damai,” tutupnya.
Pada akhirnya, diskusi tersebut membuka ruang interaksi yang lebih luas antar peserta. Membangun budaya komunikasi yang terbuka dan saling menghargai diyakini menjadi kunci terciptanya zona damai dalam keberagaman, sekaligus memperkokoh persatuan bangsa.
Imam Setiadi







