MDI.NEWS, Jakarta —- Aktris Amanda Manopo membagikan pengalamannya saat terlibat dalam film Paylater dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta. Film ini menjadi debut layar lebar bagi rumah produksi Skofi dan mempertemukan Amanda dengan sutradara Ardi Widya dalam proyek yang mengangkat isu konsumerisme dan tekanan sosial di kalangan masyarakat urban.
Amanda mengungkapkan bahwa film Paylater berada di semesta cerita yang berbeda dengan serial yang pernah ia bintangi sebelumnya. Meski sempat ragu menerima tawaran tersebut, ia akhirnya tertarik karena karakter yang ditawarkan memiliki tantangan baru. Ia ingin memastikan film ini tidak dianggap sebagai kelanjutan dari karya sebelumnya, melainkan berdiri sebagai cerita yang mandiri dengan pendekatan yang berbeda.
Dalam film ini, Amanda memerankan karakter Tina Van Bacon, seorang perempuan yang bercita-cita menjadi figur publik di dunia hiburan, namun terhambat oleh standar kecantikan yang tinggi. Karakter tersebut digambarkan tidak sesuai dengan ekspektasi industri, sehingga terjerumus dalam masalah finansial dan gaya hidup instan. Untuk mendalami peran itu, Amanda melakukan perubahan fisik yang signifikan.
“Saya menaikkan berat badan hampir 14 kilogram. Rambut juga dibuat keriting supaya benar-benar berbeda dari karakter saya sebelumnya,” ujar Amanda Manopo dalam konferensi pers tersebut. Ia menilai perubahan tersebut penting agar penonton dapat melihat sisi lain dari dirinya sebagai aktris.

Lebih jauh, Amanda menyebut karakter Tina sangat dekat dengan realitas banyak perempuan masa kini, termasuk kebiasaan berbelanja dan dorongan mempertahankan gaya hidup tinggi. Perbedaannya, Tina tidak memiliki pekerjaan tetap dan memilih jalan pintas melalui pinjaman dan keputusan keliru yang berujung pada konflik besar dalam hidupnya.
Sutradara Ardi Widya menjelaskan bahwa film Paylater sejak awal dirancang untuk mengangkat keresahan sosial tanpa bersifat menggurui. Ia dan tim penulis melakukan riset dengan mewawancarai pengguna hingga pekerja di industri pinjaman online untuk memahami sistem yang terjadi di baliknya. Isu konsumerisme, budaya flexing, dan tekanan validasi media sosial menjadi fokus utama cerita.
“Kami ingin membicarakan problem remaja dan masyarakat urban hari ini secara dekat dan jujur. Karakter-karakternya kami ciptakan dari orang-orang biasa di sekitar kita,” kata Ardi Widya. Menurutnya, film ini berusaha menampilkan kontras antara citra publik para aktor dengan karakter yang mereka perankan.
Film Paylater juga dibintangi oleh Devano Danendra, Richard, Jovial, dan Lukman Sardi, yang masing-masing tampil dengan karakter berbeda dari citra mereka selama ini. Proses membangun chemistry antar pemain disebut berjalan seru dan penuh eksplorasi, terutama karena latar cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui film ini, para pembuat berharap Paylater dapat menjadi tontonan yang menghibur sekaligus menemani penonton yang sedang menghadapi tekanan hidup. Film tersebut diharapkan mampu menjadi ruang refleksi bersama tanpa menghakimi, serta menjadi hiburan yang relevan di tengah situasi sosial yang penuh tantangan. (Red).







