MDI.News, Jakarta Dalam suasana penuh semangat kebangsaan, Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia (AWPI) menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di Jakarta, 13 Oktober 2025 dengan mengusung tema:
“Menguatkan Semangat Sumpah Pemuda dan Profesionalisme Pers di Era Digital.”
Acara bergengsi ini menjadi wadah konsolidasi, refleksi, dan penguatan komitmen bagi insan pers nasional, dihadiri oleh jajaran pengurus pusat, perwakilan daerah, serta berbagai organisasi media dari seluruh Indonesia.
Salah satu momen penting dalam Rapimnas tersebut adalah pidato reflektif Asrul Alamsyah, tokoh pers nasional, yang menyoroti pentingnya komunikasi sebagai kunci persatuan bangsa dan relevansinya dengan semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Dalam sambutannya, Asrul menegaskan pandangan yang sejalan dengan arahan Kementerian Komunikasi dan Informatika, bahwa komunikasi merupakan hal mendasar untuk membangun dan menyatukan Indonesia. Ia menilai, komunikasi yang sehat, terbuka, dan beretika menjadi jembatan penting dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah derasnya arus informasi digital.
“Komunikasi adalah kunci untuk menyatukan Indonesia. Untuk menjaga persatuan itu, kita membutuhkan wartawan, media, dan seluruh pihak yang memahami makna komunikasi kebangsaan,” ujar Asrul di hadapan peserta Rapimnas.
Menurutnya, wartawan memiliki peran sentral dalam menjaga komunikasi publik agar tetap konstruktif, berimbang, dan berorientasi pada kebenaran.
“Tugas wartawan bukan sekadar menyampaikan berita, tapi menjaga makna dari setiap pesan agar tidak menimbulkan perpecahan. Inilah tanggung jawab moral yang melekat pada profesi jurnalis,” tegasnya.
Asrul juga mengaitkan pelaksanaan Rapimnas ini dengan semangat Sumpah Pemuda. Ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan sejarah tersebut karena kakeknya merupakan salah satu peserta Kongres Pemuda tahun 1928.
“Saya mewakili semangat kakek saya yang hadir dalam Kongres Pemuda 1928. Saya sendiri pernah berdiri di Gedung Kramat 106, tempat para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Di sana saya menyaksikan bagaimana sejarah itu masih hidup dan memberi pelajaran berharga bagi kita,” kenang Asrul.
Ia menguraikan kembali makna dari tiga ikrar Sumpah Pemuda — satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia — sebagai wujud tekad untuk lepas dari belenggu kolonialisme Hindia Belanda dan membangun persatuan sejati di atas keberagaman.
“Sumpah Pemuda bukan sekadar teks sejarah, melainkan jiwa yang hidup dalam setiap insan bangsa. Rasa persatuan dan kesatuan yang melahirkan sumpah itu harus terus dijaga, terutama oleh para wartawan sebagai penjaga kebenaran,” ujarnya.
Lebih lanjut, Asrul menyoroti arah kebijakan jurnalistik nasional di era Society 5.0, di mana teknologi dan manusia berpadu dalam tatanan sosial baru. Ia menegaskan bahwa tantangan wartawan saat ini tidak hanya pada kecepatan, tetapi juga pada etika dan akurasi di tengah derasnya informasi.
“Kita sudah memasuki era luar biasa cepat. Berita datang dari seluruh dunia dalam hitungan detik. Namun di tengah percepatan itu, wartawan sejati adalah mereka yang mampu menjaga etika, profesionalisme, dan nilai-nilai kemanusiaan,” tegas Asrul.
Ia juga menekankan pentingnya peran media nasional sebagai perekat kebangsaan dan penyeimbang informasi publik. Media, katanya, harus menjadi ruang edukasi dan dialog, bukan arena provokasi.
“Pers nasional harus hadir sebagai jembatan yang menghubungkan semua elemen bangsa. Media harus menjadi ruang edukasi publik, bukan arena provokasi,” tambahnya.
Menutup pidatonya, Asrul mengajak seluruh peserta Rapimnas untuk menjadikan semangat Sumpah Pemuda sebagai inspirasi bagi dunia jurnalistik modern, sekaligus meneguhkan komitmen terhadap kode etik profesi.
“Mari kita hidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda dalam dunia jurnalistik. Wartawan sejati adalah mereka yang berani menyuarakan kebenaran, menjunjung etika, dan menjaga persatuan bangsa melalui karya yang mencerahkan,” pungkas Asrul disambut tepuk tangan meriah peserta.
Sementara itu, Ketua Umum AWPI Hengky Ahmad Jazuly dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dengan visi organisasi dalam memperkuat profesionalisme dan etika wartawan Indonesia.
“Pidato beliau mengingatkan kita semua bahwa wartawan bukan hanya profesi, tetapi juga pengemban amanah bangsa,” ujar Hengky.
Dengan mengusung tema besar “Menguatkan Semangat Sumpah Pemuda dan Profesionalisme Pers di Era Digital”, Rapimnas AWPI 2025 di Jakarta diharapkan menjadi momentum kebangkitan insan pers nasional untuk terus menjaga komunikasi kebangsaan, profesionalisme, serta integritas dalam menghadapi tantangan zaman digital yang dinamis.







