width=
width=

Banjir Besar Landa Sumatera Korban Terus Bertambah, Ribuan Warga Mengungsi

Dasboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Provinnsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat Tahun 2025 (Sumber: Website/BNPB)

MDINEWS | Bekasi — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali mengeluarkan pembaruan resmi mengenai dampak bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah provinsi di Pulau Sumatera. Dalam laporan terbaru yang dirilis pada Selasa (3 Desember 2025), tercatat 809 korban meninggal dunia, sementara 623 warga lainnya masih dinyatakan hilang dan 2,6RB  warga terluka. Jumlah tersebut diperkirakan dapat bertambah seiring berlanjutnya proses pencarian oleh tim penyelamat di lapangan.

Selain korban jiwa, ribuan rumah penduduk, fasilitas umum, dan infrastruktur vital mengalami kerusakan berat akibat banjir besar, longsor, dan luapan sungai yang tak mampu menahan intensitas hujan ekstrem.

BNPB menyampaikan bahwa bencana ini merupakan salah satu yang paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hujan lebat berkepanjangan yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah memicu banjir bandang serta tanah longsor di berbagai titik. Banyak desa yang terisolasi akibat akses jalan terputus, jembatan hanyut, dan jaringan komunikasi lumpuh. Kondisi ini memperparah situasi, terutama dalam upaya evakuasi dan penyelamatan warga yang masih terjebak di daerah sulit dijangkau.

Di beberapa wilayah terdampak, aliran banjir menghanyutkan rumah warga, merusak lahan pertanian, serta menimbulkan genangan dalam skala besar. Sementara itu, tanah longsor menyebabkan puluhan rumah tertimbun dan menyulitkan proses pencarian korban yang diduga masih berada di bawah material longsoran. BNPB menggambarkan situasi di lokasi bencana sebagai krisis kemanusiaan besar, mengingat banyaknya warga yang kehilangan tempat tinggal, kehilangan anggota keluarga, dan harus mengungsi ke lokasi-lokasi darurat.

Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah terus mengerahkan tim SAR gabungan—yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, Basarnas, relawan, serta berbagai lembaga kemanusiaan—untuk melakukan pencarian korban hilang, evakuasi warga terdampak, serta distribusi bantuan logistik.
Namun, tim di lapangan masih menghadapi hambatan besar. Kondisi medan yang sulit, cuaca yang tidak menentu, serta beberapa wilayah yang masih terisolasi menjadi tantangan utama dalam mempercepat penanganan dan pengiriman logistik.

BNPB menegaskan perlunya koordinasi yang lebih kuat di antara seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah daerah diminta mempercepat pendataan korban, memastikan penyaluran bantuan tepat sasaran, dan menyediakan tempat pengungsian yang aman serta layak bagi warga yang kehilangan rumah. Organisasi kemanusiaan juga diimbau untuk memperkuat sinergi agar distribusi bantuan dapat merata, terutama untuk wilayah terpencil yang sampai saat ini belum terakses penuh.

Dalam pernyataannya, pejabat BNPB menekankan bahwa bencana ini menjadi peringatan penting bagi seluruh wilayah rawan bencana di Indonesia. Perubahan iklim yang memicu peningkatan curah hujan ekstrem harus direspons dengan memperkuat sistem mitigasi bencana, mulai dari peringatan dini, tata kelola lingkungan, hingga kesiapan masyarakat menghadapi bencana serupa di masa depan.

Tragedi di Sumatera ini kembali menunjukkan betapa pentingnya kesiapsiagaan kolektif. Pemerintah, masyarakat, dan seluruh elemen bangsa diharapkan mampu bekerja sama untuk membantu pemulihan korban sekaligus membangun kembali wilayah terdampak dengan ketahanan yang lebih baik.

***Tony Cipung

WWW.MDI.NEWS