width=
width=

Casemiro Bicara Jujur, Mengapa Liga Inggris Lebih Sulit dari La Liga ? 

MDI.NEWS, Jakarta —- Pernyataan Casemiro yang menyebut Liga Inggris jauh lebih sulit dibanding La Liga bukan sekadar komentar emosional pemain yang sedang beradaptasi. Pengakuan itu datang dari figur yang telah menaklukkan panggung tertinggi sepak bola Eropa bersama Real Madrid.

Lima gelar Liga Champions dan dominasi panjang di Spanyol menjadikan suara Casemiro memiliki bobot pengalaman, bukan sekadar opini kosong. Dalam wawancara dengan media Inggris usai membela Manchester United—yang dikutip sejumlah outlet seperti The Athletic dan Daily Mail—Casemiro secara terbuka mengakui bahwa intensitas pertandingan di Premier League berada di level berbeda.

Ia menegaskan tidak bermaksud merendahkan La Liga, namun menggarisbawahi kerasnya ritme dan tuntutan fisik sepak bola Inggris.

Premier League memang dikenal sebagai liga tanpa kompromi. Tempo permainan tinggi sejak menit awal, duel fisik terjadi di hampir setiap sektor lapangan, dan transisi berlangsung sangat cepat.

Tidak ada ruang untuk mengendurkan fokus. Tim papan bawah pun mampu memberi tekanan ekstrem kepada klub besar, terutama saat bermain di kandang sendiri.

Inilah konteks yang membuat Liga Inggris terasa “lebih sulit” bagi Casemiro. Sulit secara fisik karena tuntutan stamina yang tinggi. Sulit secara mental karena tekanan hadir setiap pekan. Dan sulit secara konsistensi, sebab satu performa buruk saja bisa langsung berdampak pada posisi tim di klasemen.

La Liga, di sisi lain menawarkan tantangan dengan wajah berbeda. Sepak bola Spanyol lebih menekankan kecerdasan taktik, penguasaan bola, serta kontrol tempo permainan. Banyak laga dimenangkan lewat kesabaran dan ketepatan membaca situasi, bukan semata adu tenaga. Kompleks, namun lebih terukur.

Sebagai gelandang bertahan, Casemiro merasakan perbedaan itu secara langsung. Jika di Spanyol ia lebih fokus mengatur ritme dan menutup ruang, di Inggris ia dipaksa terus bergerak, berduel, dan mengambil keputusan cepat di bawah tekanan konstan.

Adaptasi ini bahkan kerap membuat pemain berpengalaman sekalipun kewalahan. Karena itu, reaksi emosional yang menganggap pernyataan Casemiro sebagai bentuk meremehkan La Liga sejatinya tidak relevan. Ia tidak membandingkan kualitas, melainkan karakter.

Premier League keras dan menguras fisik. La Liga cerdas dan menuntut kecermatan taktik. Pengakuan Casemiro justru memperkaya diskusi sepak bola. Bahwa liga terbaik tidak selalu diukur dari siapa yang paling indah atau paling populer, melainkan dari seberapa besar tuntutan yang harus ditanggung pemain. Dan bagi Casemiro, Liga Inggris menuntut lebih—setiap pekan, tanpa jeda.

 

Penulis: Imam Setiadi Editor: Rizki Trainar
WWW.MDI.NEWS