MDI.NEWS | Jakarta – Akademisi sekaligus pemerhati kebijakan publik, dr. Tifauzia Tyassuma, merilis pernyataan resmi terkait berbagai narasi yang berkembang mengenai batalnya pertemuan antara dirinya dan Komite Reformasi Polri. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa posisi dirinya sejak awal berada sepenuhnya pada jalur ilmu pengetahuan, bukan bagian dari proses mediasi maupun negosiasi politik.
Dikutip dari laman medsos pribadinya, dr. Tifa menilai kebenaran ilmiah adalah sesuatu yang harus diuji, dibuktikan, dan dipertanggungjawabkan, bukan dinegosiasikan. Ia menyebut tidak mempermasalahkan apakah pertemuan berlangsung atau tidak, karena ruang dialog tetap ia hormati. “Yang saya perjuangkan berdiri di atas landasannya sendiri. Saya bersyukur dukungan rakyat terus mengalir karena masyarakat tahu yang saya bela adalah marwah ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh pandangannya selama ini disampaikan dengan analisis yang jernih dan berbasis data, tanpa membawa agenda kelompok tertentu. Menurutnya, sikap independen dan konsisten tersebut justru membuat dukungan publik terus bertambah. “Mereka tahu sikap saya tidak bisa diklaim oleh kekuatan apa pun. Dengan cara itu saya menjaga kepercayaan publik dan tetap bebas dari tarik-menarik kepentingan,” tegasnya.
Dalam pernyataannya dr. Tifa menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto yang dinilai sedang berupaya membangun institusi hukum dan kepolisian yang lebih modern serta berkeadilan. Ia menyadari bahwa reformasi merupakan proses panjang yang penuh tantangan. Dirinya menyatakan siap memberikan pandangan akademik kapan pun dibutuhkan, selama hal tersebut membawa manfaat bagi negara.
“Saya tetap berjalan dengan tenang, teguh, dan bermartabat. Ketika seseorang menjaga integritas keilmuannya, rakyat akan berdiri bersama,” tambahnya. Ia menyebut dukungan moral masyarakat sebagai tanda bahwa publik cinta kebenaran dan suaranya tidak boleh diabaikan.
Pernyataan ditutup dengan doa agar segala proses ini berjalan dalam lindungan Tuhan.







