MDI.NEWS | Sosok – Ada lagu yang tidak sekadar kita dengarkan, tetapi diam-diam tinggal bersama kita. Lagu yang menjadi pintu kecil menuju masa lalu, masa ketika hidup terasa lebih pelan, lebih teduh, dan lebih jujur. Bagi banyak dari kita, Posesif milik Naif adalah lagu itu. Setiap nadanya seperti angin tipis yang membawa kembali aroma masa kecil, ruang tamu sederhana, televisi tabung, dan hati yang belum mengenal kerumitan dunia.
Namun di balik lagu yang lembut itu, ada satu sosok yang membuat kenangan terasa lengkap: Avi.
Sosoknya di video klip Posesif bukan sekadar penampil. Ia adalah perasaan. Ia adalah atmosfer. Ada yang misterius, ada yang sendu, dan ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Bahkan bagi anak kecil kala itu, wajah Avi menimbulkan rasa yang aneh seperti; takut, kagum, bingung, namun tak bisa berhenti melihat. Ia menghadirkan keheningan yang justru keras dalam ingatan.
Nama aslinya, Jeanny Stavia atau Raden Stefanus Djoko Wiryanto Suwito, mungkin tidak banyak diketahui. Dunia lebih dulu memeluknya dengan nama Avi Naif, dan itu cukup. Kadang dunia memang hanya mengingat satu bagian kecil dari hidup seseorang, dan dari situlah ia abadi.
Avi tidak hidup dalam sorotan bising. Jika ada sensasi atau masalah, semuanya berlalu dalam nada kecil, tidak berlebihan seperti selebritas zaman sekarang. Ia seperti hadir sebentar, lalu menghilang pelan-pelan. Namun justru dalam ketenangan itu, ia meninggalkan bekas yang begitu dalam. Kesederhanaannya menjadi ruang hening tempat kenangan kita berlabuh.
Ketika kabar kepergiannya pada 2006 akibat kanker paru-paru, ada rasa yang menempel kuat di dada. Seolah seseorang yang tak pernah benar-benar kita kenal secara pribadi, tetapi telah lama tinggal di sebuah sudut memori, akhirnya pamit. Ia meninggalkan pesan ingin dimakamkan sebagai lelaki, sebuah permintaan yang sederhana namun menyentuh.
Kini, setiap kali lagu Posesif mengalun, Avi kembali hadir. Tidak dalam wujudnya, tetapi dalam sensasi lembut yang muncul dari ingatan. Dalam gerakan matanya, senyumnya yang samar, langkahnya dalam kilatan lampu video klip itu. Lagu itu menjadi semacam rumah kecil bagi kenangan tentang dirinya yaitu rumah yang tidak pernah rapuh dimakan waktu.
Avi mungkin telah pergi, namun lagu itu menjaga jiwanya tetap bernyala.
Dan dalam setiap detik refrain, ia kembali berjalan pelan menuju kita.(Berbagai sumber)I







