width=
width=
FILM  

Joko Anwar Angkat Realitas Sosial dalam Film Ghost in the Call

MDI.NEWS, Jakarta —- Press conference dan press screening film produksi Rapi Film, Legacy Pictures, serta didukung Amar Bank digelar di Epicentrum XXI. Kegiatan ini dihadiri para pemain, kru, serta awak media yang antusias mengikuti pemaparan proses kreatif film terbaru karya Joko Anwar. Pada Kamis, 9 April 2016 di Epicentrum XXI Rasuna Said.

Acara tersebut menjadi ruang diskusi terbuka antara sineas dan jurnalis. Para peserta media diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangan mereka terhadap film yang dinilai menghadirkan kombinasi genre yang tidak biasa, mulai dari horor, komedi, hingga satire sosial.

Salah satu jurnalis menggambarkan pengalaman menonton film ini sebagai sesuatu yang intens dan penuh simbol. Ia menyebut suasana film seperti gambaran “padang mahsyar” dengan berbagai metafora yang kuat tentang kondisi manusia dan sistem sosial.

Menanggapi hal tersebut, Joko Anwar menjelaskan bahwa ide cerita film ini telah dikembangkan sejak 2017 hingga 2018. Ia menyebut proses panjang itu dilandasi harapan akan perubahan sosial yang lebih baik, meskipun realitas yang terjadi tidak sepenuhnya sesuai ekspektasi.

Ia menegaskan bahwa film ini dibangun dari satu kata kunci utama, yaitu absurditas. Menurutnya, banyak fenomena di Indonesia yang tampak tidak logis, tetapi justru menjadi hal yang dianggap biasa oleh masyarakat.
“Indonesia itu absurd. Banyak hal yang seharusnya tidak normal, tapi kita anggap wajar,” ujar Joko Anwar.

Ia juga menambahkan bahwa film ini tidak dibuat untuk menghadirkan keputusasaan. Menurutnya, tetap ada ruang harapan yang ingin disampaikan kepada penonton melalui cerita yang dibangun.

Dalam pendekatan naratifnya, film ini memadukan berbagai nuansa emosi. Terkadang hadir sebagai komedi ringan, namun di sisi lain juga menampilkan ketegangan horor yang mencerminkan realitas kehidupan masyarakat Indonesia.

Joko Anwar mengibaratkan latar cerita film sebagai sebuah “penjara” yang merepresentasikan negara. Ia menjelaskan bahwa seluruh karakter di dalamnya merupakan gambaran warga yang terjebak dalam sistem yang sama.

“Penjaranya adalah negara, dan kita semua adalah penghuninya,” kata dia.

Aktor Aming Sugandhi mengungkapkan bahwa karakter yang ia perankan dibangun melalui pendekatan psikologis yang mendalam. Ia menyebut latar belakang trauma menjadi salah satu elemen penting dalam membentuk karakter tersebut.

Menurut Aming, eksplorasi karakter dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai aspek personal tokoh. Ia menilai hal ini membuat karakter terasa lebih hidup dan relevan dengan realitas.

Dalam aspek visual, film ini melibatkan sejumlah ilustrator profesional untuk merancang adegan kematian secara artistik. Setiap adegan didesain oleh ilustrator berbeda yang memiliki pengalaman internasional, sehingga menghasilkan visual yang beragam dan unik.

Joko Anwar menjelaskan bahwa simbol-simbol dalam film ini memiliki makna mendalam. Ia menyebut sosok “hantu” dalam film sebenarnya merupakan representasi sisi gelap manusia itu sendiri.

“Hantu itu adalah kita, ketika berada dalam kondisi paling buruk dan penuh hal negatif,” ujarnya.

Film ini juga mengangkat isu kerusakan lingkungan sebagai latar cerita. Entitas dalam film digambarkan berasal dari hutan yang rusak akibat ulah manusia, sehingga menjadi simbol konsekuensi dari eksploitasi alam.

Selain itu, film ini telah diuji melalui pemutaran internasional dan mendapat respons positif. Penonton dari berbagai negara dinilai mampu memahami pesan film meski berangkat dari konteks lokal Indonesia.

Joko Anwar menegaskan bahwa kejujuran dalam bercerita menjadi kekuatan utama film ini. Ia menyampaikan bahwa cerita yang otentik justru memiliki daya jangkau universal dan dapat diterima oleh penonton global. (***)

Penulis: Rizki Trainar
WWW.MDI.NEWS