MDI.NEWS | Sorot Kasus – Kisah viral di Tanah Abang ini terasa seperti ironi kota besar: seorang wanita menjadi korban teror seksual, tetapi justru pasukan pemadam kebakaran yang bergerak cepat, sementara aparat yang seharusnya menjadi garda terdepan malah sibuk dengan urusan “administrasi”.
Korban, pemilik akun Instagram @lasagna111, mengalami serangkaian teror dari seorang pria paruh baya yang diduga tukang ojek. Modus pelaku tidak hanya menjijikkan, tetapi juga “kreatif” dengan cara yang sangat keliru.
Sembunyi di balik pot besar
Loncat sambil teriak “WAAA!!”
Pamer alat kelamin seperti sedang ajang unjuk bakat
Lalu menutup aksinya dengan tawa mengejek
Ketakutan, korban mencoba jalur yang paling logis: lapor polisi.
Sayangnya, logika itu tidak berbuah hasil.
Mention ke Divisi Humas Polri? Sepi.
Satpol PP? Senyap.
Datang langsung ke kantor polisi? Yang didapat hanya kuliah umum soal bukti.
Petugas disebut menolak bertindak dengan alasan klasik:
“Enggak bisa kalau nggak ada bukti video/foto.”
Bahkan ketika korban hanya meminta polisi menegur pelaku agar jera, jawabannya tetap sama:
“Tidak bisa bantu.”
Ia pulang dengan rasa takut… dan kecewa.
Namun di tengah keputusasaan itu, sebuah “keajaiban birokrasi” terjadi.
Dalam perjalanan pulang, korban singgah ke Kantor Damkar Benhil dalam pikirannya sekadar “coba-coba”, karena kabar bahwa Damkar sering membantu urusan di luar kebakaran sudah lama viral.
Yang terjadi berikutnya:
perbedaan 180 derajat.
Tak ada pertanyaan “Ada videonya?”
Tak ada syarat “Harus bawa bukti.”
Yang ada hanyalah satu kalimat sederhana:
“Ayo Bu, kita bantu.”
Sosok paling bersinar hari itu adalah Pak Bambang, petugas Damkar yang langsung menemani korban kembali ke lokasi pelaku. Dalam video yang kini viral, Pak Bambang mengejar pelaku sambil memperkenalkan diri bahwa korban adalah saudaranya, sebuah strategi psikologis yang jitu.
Pelaku yang tadinya gagah pamer kelamin mendadak ciut.
Tertunduk.
Minta maaf.
Tiada lagi tawa “HAHAHAHA!” seperti saat korbannya ketakutan.
Aksi ini memantik pujian warganet, bahkan korban menuliskan rasa terima kasihnya secara tulus kepada Pak Bambang dan seluruh Damkar Benhil.
Satire Itu Bernama Realita
Peristiwa ini menjadi cermin besar atau mungkin tamparan halus tapi pedih bagi aparat yang semestinya menjadi tempat pertama warga mencari perlindungan.
Faktanya,hari itu warga Jakarta belajar satu hal:
Jika ada penjahat, Damkar yang datang.
Jika butuh ceramah prosedur, barulah ke kantor polisi.
Sebuah ironi yang tidak lucu, tapi membuat publik tertawa getir.
Kisah Pak Bambang mengingatkan bahwa keamanan bukan hanya soal seragam atau kewenangan, tetapi keberanian dan empati. Dua hal sederhana yang kadang justru datang dari mereka yang tidak terikat prosedur panjang.
Semoga cerita ini menjadi pengingat, bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk menggugah.
Bahwa masyarakat tidak butuh birokrasi saat terancam.
Yang dibutuhkan hanyalah keberpihakan.
Dan hari itu, keberpihakan itu datang… dari pasukan pemadam kebakaran. (Dari berbagai sumber)







