MDI.NEWS | Tokoh – Tragedi 30 September 1965 masih tercatat sebagai lembaran kelam bangsa. Tujuh perwira tinggi TNI AD menjadi korban penculikan dan pembunuhan atas nama “Revolusi”. Negara pun menegaskan sikap: tak memberi ruang bagi PKI.
Namun, ada sosok menarik di balik peristiwa itu. Brigjen Ahmad Sukendro, perwira intelijen kepercayaan Jenderal AH Nasution, sejatinya masuk dalam daftar jenderal yang akan diculik G30S. Dalam rapat terakhir di rumah Sjam Kamaruzzaman, namanya bahkan sempat disebut bersama delapan target utama. Tetapi lantaran sedang ditugaskan Presiden Sukarno menghadiri acara di Peking, namanya dicoret dari daftar. Ia pun selamat.
Sukendro lahir di Banyumas tahun 1923. Sejak muda ia aktif di PETA, lalu bergabung dengan Divisi Siliwangi saat revolusi. Nasution melihat kecerdasannya dan menariknya menjadi Asintel I KSAD. Kariernya terus menanjak, bahkan menjalin kontak erat dengan CIA dalam sejumlah kerja sama militer.
Kedekatannya dengan Nasution dan Ahmad Yani membuat Sukendro masuk lingkaran “Dewan Jenderal” yaitu sebuah forum perwira tinggi yang kerap berseberangan dengan PKI. PKI menilai sosok intelektual ini sebagai ancaman serius. Nasib baik menyelamatkannya dari maut, tapi selepas G30S posisinya perlahan tersisih oleh Ali Moertopo yang lebih dipercaya Soeharto dalam jaringan intelijen.
Insting intelijennya tetap tajam. Pada momen genting 11 Maret 1966, ia sempat menyarankan AM Hanafi untuk terus mendampingi Sukarno agar tidak terisolasi. Namun sejarah berkata lain: Supersemar jatuh ke tangan Soeharto.
Ironisnya, justru pada masa Orde Baru bintang Sukendro meredup. Dalam sebuah kursus perwira di Bandung, ia terang-terangan mengakui adanya Dewan Jenderal. Pernyataan itu membuat Soeharto tidak nyaman. Lewat Pangkopkamtib Jenderal Sumitro, Sukendro ditahan tanpa pengadilan di RTM Nirbaya Cimahi selama sembilan bulan.
Usai bebas, Gubernur Jateng Supardjo Rustam menampungnya dan memberi amanah mengelola perusahaan daerah. Meski sudah “disingkirkan”, intelijen negara masih kerap mendatanginya setiap kali muncul isu gerakan antipemerintah.
Brigjen Sukendro adalah jenderal cerdas yang lolos dari maut G30S dan akhirnya justru tergilas oleh roda politik Orde Baru.
Dudung – Media Duta Indonesia







