MDI.NEWS, Jakarta—–Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Kalimiru, Kecamatan Bawang, Kabupaten Purworejo, berhasil mencatat produktivitas padi mencapai 7,2 ton per hektare. Keberhasilan panen ini menjadi bukti peran aktif perempuan dalam memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga petani.
Panen dilakukan pada Selasa, 3 Maret 2026, di lahan persawahan Desa Kalimiru. Kegiatan tersebut melibatkan anggota KWT serta didampingi penyuluh pertanian lapangan. Momentum panen raya ini menjadi simbol keberhasilan kerja kolektif perempuan tani dalam mengelola lahan secara mandiri dan berkelanjutan.
Berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan petugas penyuluh pertanian lapangan, varietas padi Mawar menghasilkan 4,4 kilogram per ubinan atau setara 7,2 ton per hektare. Sementara itu, varietas Bagendit mencapai 4,2 kilogram per ubinan atau sekitar 7 ton per hektare. Angka tersebut berada di atas rata-rata produktivitas tingkat kecamatan dan dinilai sangat memuaskan.
Kepala Desa Kalimiru, Agung Yuli Priyokumanto, menyampaikan bahwa panen kali ini merupakan hasil budidaya yang dikelola KWT secara konsisten. Ia menegaskan pemerintah desa terus mendorong praktik pertanian ramah lingkungan. “Ke depan penggunaan pupuk kimia akan mulai kami kurangi dan beralih ke pupuk organik agar pertanian tetap berkelanjutan,” ujarnya.
Penyuluh Pertanian Lapangan Desa Kalimiru, Sariwati, menjelaskan bahwa KWT di wilayahnya memiliki keunikan tersendiri. Selain aktif di pekarangan, kelompok tersebut juga mengelola lahan sawah produktif. “Hasil sampling ubinan menunjukkan produktivitas mencapai 7,2 ton per hektare, di atas rata-rata Kecamatan Bawang,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Desa Kalimiru sebelumnya telah menyalurkan bantuan pupuk organik untuk lahan seluas 30 hingga 50 hektare. Bantuan tersebut diberikan untuk mendorong sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia.
Ketua KWT setempat, Sumi Astuti, mengapresiasi semangat para anggota yang terlibat sejak proses tanam hingga panen. Ia mengatakan seluruh tahapan dilakukan secara gotong royong. “Kami bersama pemerintah desa dan masyarakat berkomitmen mempertahankan bahkan meningkatkan produktivitas padi demi ketahanan pangan,” ungkapnya.
Melalui keberhasilan panen tersebut, KWT Kalimiru tidak hanya membuktikan kemampuan perempuan dalam mengelola sektor pertanian, tetapi juga menunjukkan kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan daerah. Pemberdayaan perempuan di bidang pertanian dinilai mampu mendorong peningkatan ekonomi keluarga sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan pedesaan. (***)







