MDINEWS | Bekasi – Sampai kapan warga kota harus hidup di bawah “hutan kabel” yang menggantung seperti jebakan? Setiap hari, masyarakat berjalan di trotoar dengan kepala menunduk, bukan hanya menghindari lubang jalan, tetapi juga waspada pada kabel-kabel yang menjuntai rendah seolah siap menyentuh siapa saja yang lengah. Anehnya, kondisi ini seakan dianggap wajar. Padahal, di kota-kota besar dunia, pemandangan seperti ini sudah masuk kategori darurat infrastruktur.
Kabel udara yang berseliweran bukan hanya merusak estetika, tetapi juga menjadi simbol ketidakseriusan dalam penataan kota. Setiap musim hujan, masyarakat kembali dihadapkan pada berita kabel putus, korsleting, hingga insiden yang membahayakan keselamatan. Ironisnya, keluhan itu tenggelam oleh rutinitas, sementara masalahnya tetap menggantung di udara, secara harfiah dan figuratif. Kota seharusnya tidak dibiarkan terus berada dalam kondisi seperti ini.
Sementara itu, solusi sudah jelas, diantaranya penanaman kabel bawah tanah. Infrastruktur ini bukan barang baru, bukan teknologi futuristik, dan bukan pula hal yang mustahil dilakukan. Semakin banyak daerah membuktikan bahwa jalur kabel terintegrasi di bawah tanah jauh lebih aman, stabil, dan tidak menodai wajah kota. Memang, biaya awalnya tinggi, tetapi berulang kali para ahli mengingatkan bahwa kerugian akibat gangguan kabel udara justru lebih besar dalam jangka panjang.
Pemerintah daerah sering berdalih bahwa proses migrasi kabel membutuhkan waktu dan koordinasi yang rumit dengan berbagai operator utilitas. Namun, pertanyaannya sederhana: sampai kapan alasan yang sama terus digunakan? Jika penataan kabel udara tidak juga menjadi prioritas, kota hanya akan semakin dipenuhi tambalan-tambalan kecil yang tidak menyentuh akar persoalan.
Langit kota seharusnya dipenuhi awan, bukan gulungan kabel semrawut. Jika pemerintah benar-benar serius membenahi wajah urban, langkah pertama sudah terang: turunkan kabel dari udara, tanam dalam tanah, dan hentikan warisan visual yang merusak citra kota.







