width=
width=

Mengintip Gaya Tulisan Artikel Bung Karno 

MDI.NEWS | Inspiratif – Pada tanggal 6 Juni nanti adalah hari ulang tahun Bung Karno. Tulisan ini saya hadiahkan sebagai bentuk rasa cinta kepada tokoh perjuangan nasional sekaligus Proklamator Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 dan juga Presiden RI yang pertama.

 

Bung Karno bernama lengkap Ir.H. Achmad Soekarno. Semasa mudanya ia dikenal sebagai jurnalis yang handal, gagasan dan pemikirannya yang kritis terhadap kolonial Belanda selalu dimuat diberbagai koran dan majalah di jamannya.

 

Bung Karno memiliki kiprah yang signifikan dibidang jurnalistik. Namanya semakin populer ketika ia bersama beberapa tokoh nasionalis mendirikan koran “Fikiran Rajat” (Fikiran Rakyat 1930).

 

Fikiran Rajat berperan penting dalam memobilisasi dukungan dari rakyat untuk perjuangan kemerdekaan sekaligus mempengaruhi opini publik tentang isu-isu sosial-politik pada masa itu.

 

Tak hanya sampai disitu kemahiran Bung Karno sebagai jurnalis semakin mumpuni dengan kepiawaiannya dalam menulis buku “Di Bawah Bendera Revolusi” adalah buku hasil karya Soekarno. Berisi tentang tulisan-tulisan Soekarno muda ketika masih aktif sebagai jurnalis dari tahun 1926 hingga 1941 yang terangkum dalam jilid satu.

 

Sedangkan pada jilid kedua berisi tentang pidato-pidato Soekarno dari tahun 1945 sampai 1964. Pada jilid pertama ada 61 judul tulisan dan yang menarik perhatian saya ada satu judul tulisan yang tidak biasa dan membuat saya semakin penasaran untuk menelusuri isi buku yang ditulis Sang Proklamator.

 

Judul tulisan itu adalah “Islam Sontoloyo”. Frase yang menurut saya aneh dan nyeleneh, tapi mari kita cermati tulisan saya selanjutnya agar tidak salah paham dalam memahami isi buku buah pemikiran Bung Karno.

 

Jangan negative thinking dulu ketika kita membaca judulnya. Kedengarannya memang tidak lazim, aneh dan nyeleneh bahkan cenderung menjustifikasi agama tertentu. Mari kita telusuri frase ini agar menjadi literasi yang berbobot dalam dialektika kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 

Frase  “Islam Sontoloyo” adalah gambaran situasi dan kondisi sebagian umat Islam yang masih primitif, sempit dalam berfikir, masih gamang dalam melawan kolonialisme Belanda.

 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “sontoloyo” adalah bahasa Jawa yang memiliki arti “keblinger” atau salah arah, bodoh, pemikirannya sempit, tidak bernalar (dungu) dan lain-lain.

 

Di sisi lain ternyata Soekarno memiliki pandangan yang kompleks dan dinamis terhadap perkembangan dunia Islam.

 

Dalam pandangan Soekarno lslam mempunyai beberapa aspek penting, yaitu :

1. Islam sebagai agama dan ideologi

– Sukarno berpandangan bawa Islam memiliki nilai-nilai luhur kemanusiaan dan dapat dijadikan sumber inspirasi perjuangan nasional.

 

– Ia juga berpendapat Islam sebagai ideologi artinya lslam dapat dijadikan landasan moral bagi pembangunan masyarakat yang adi dan sejahtera.

 

2. Islami dan Nasionalisme

– Sukarno menjelaskan bahwa, lslam dan Nasionalisme tidak bertentangan malah justru saling melengkapi dalam perjuangan mencapai kemerdekaan dan kesetaraan.

 

3. Kritis terhadap pemahaman Islam yang kaku

– Sukarno mengkritik pemahaman/penafsiran Islam yang kaku dan tidak progresif. Alasannya hal itu akan menghambat kemajuan berfikir dan kesetaraan dalam kehidupan beragama.

 

4. Islam dan politik

– Sukarno melihat peranan Islam dalam kehidupan politik sangat penting. Tapi ia juga berpendapat Islam tidak boleh digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan politik yang sempit.

 

Dengan memahami pandangan Sukarno terhadap Islam yang demikian. Maka saya selaku jurnalis menyimpulkan bahwa Sukarno berupaya berjuang untuk mencapai kemerdekaan dengan semangat kesatuan dan persatuan demi kemajuan bangsa Indonesia dengan tetap memperhatikan nilai-nilai ajaran agama (islam).

 

Pandangan saya, lslam Sontoloyo adalah ungkapan satire (sindiran) Sukarno yang ditujukan kepada para penganut agama Islam yang tidak terbuka (ekslusif), terbelenggu oleh doktrin agama, pemikirannya sempit sehingga tidak dinamis mengikuti perkembangan jaman. Dengan kata lain bukan islamnya yang sontoloyo melainkan sebagian para penganut agamanya.

 

Saya tegaskan sekali lagi lslam Sontoloyo bukanlah ungkapan emosional atau kebencian Sukarno terhadap Islam, akan tetapi sebagai kritikan kepada sebagian masyarakat lslam yang tidak progresif, memahami ajaran lslam secara sempit dan kaku sehingga tidak sesuai dengan semangat perjuangan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

 

Sebagai pelengkap informasi, buku “Di Bawah Bendera Revolusi” sampai hari ini masih populer di kalangan akademis dan masyarakat Indonesia karena buku ini mengandung pemikiran yang matang tentang bangsa dan negara. Gaya penulisan Soekarno yang lugas dan jelas sangat menarik untuk dibaca kapan saja.

(Dari berbagai sumber)

 

Imam Setiadi – Asistensi Media Nasional

Editor: Dudung
WWW.MDI.NEWS