width=
width=
TOKOH  

Mr. Assaat, Putra Minang yang Pernah Memimpin Republik Indonesia

MDI.NEWS | Tokoh – Bangsa Indonesia memiliki banyak putra-putri terbaik yang pernah memimpin negeri ini, mulai dari Soekarno hingga Prabowo Subianto yang kini menjabat sebagai Presiden RI. Nama-nama mereka tentu dikenal luas, bahkan sejak bangku sekolah dasar. Namun, tak banyak yang tahu bahwa ada satu sosok lain yang juga pernah menjabat sebagai Presiden Indonesia, bukan berasal dari Jawa, melainkan dari Ranah Minang. Ia adalah Mr. Assaat, putra kelahiran Agam, Sumatra Barat, 18 September 1904.

 

Dari STOVIA hingga Leiden

 

Assaat sempat menempuh pendidikan di STOVIA (sekolah dokter pribumi), namun merasa tidak cocok lalu keluar. Ia kemudian melanjutkan ke AMS (setingkat SMA) dan masuk Rechts Hoge School (RHS) di Batavia untuk belajar hukum. Karena aktif di organisasi pergerakan, Belanda menolak meluluskan dirinya meski sudah berkali-kali ujian. Merasa diperlakukan tidak adil, ia pindah ke Universitas Leiden, Belanda, dan berhasil meraih gelar Mr. (Meester in de Rechten) atau Sarjana Hukum.

 

Perjuangan Politik

 

Pada 1945, Assaat bergabung dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang menjadi cikal bakal DPR RI. Dua tahun kemudian, ia diangkat sebagai Ketua Badan Pekerja KNIP.

Mr. Assaat, Putra Minang yang Pernah Memimpin Republik Indonesia.

Situasi berubah drastis setelah Agresi Militer Belanda II tahun 1948, ketika Soekarno, Hatta, Agus Salim, dan beberapa tokoh lain ditangkap. Pemerintahan pun dialihkan ke Sumatra Barat di bawah Syafruddin Prawiranegara.

 

Hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada 1949 melahirkan Republik Indonesia Serikat (RIS), yang terdiri dari 16 negara bagian. Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kemudian menjabat di tingkat RIS, sementara Republik Indonesia dengan ibu kota Yogyakarta membutuhkan pemimpin baru. Berdasarkan konstitusi, tugas itu jatuh ke tangan Ketua BP KNIP, yaitu Mr. Assaat.

 

Presiden yang Sederhana

 

Sebagai Pelaksana Presiden Republik Indonesia (1949–1950), Assaat dikenal sederhana, bahkan menolak dipanggil “Paduka Yang Mulia”. Salah satu jasanya adalah menandatangani pendirian Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta.

 

Pada 15 Agustus 1950, ia menyerahkan kembali jabatan presiden kepada Soekarno setelah Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan. Setelah itu, Assaat menjabat sebagai anggota parlemen dan sempat menjadi Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Natsir.

 

Masa Sulit dan Akhir Hayat

 

Dalam pergolakan politik berikutnya, Assaat ikut bergabung dengan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatra Barat. Setelah PRRI ditumpas, ia hidup berpindah dari hutan ke hutan hingga akhirnya ditangkap dalam kondisi sakit. Ia dipenjara selama 4 tahun di era Demokrasi Terpimpin Soekarno (1962–1966), dan bebas setelah pergantian rezim ke Orde Baru.

 

Mr. Assaat meninggal dunia pada 16 Juni 1976 di rumahnya yang sederhana di Warung Jati, Jakarta Selatan, dalam usia 72 tahun. Meski namanya tak seterkenal Soekarno atau Hatta, sejarah mencatat putra Minangkabau ini pernah memimpin Republik Indonesia di masa genting.

 

(Dari berbagai sumber)

Editor: Dudung
WWW.MDI.NEWS