width=
width=

Perjalanan Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek arah Dukuh Atas pada siang hari,

MDI.NEWS – Jakarta, Kamis 18 Oktober 2025 uasana perjalanan Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek arah Dukuh Atas pada siang hari, tepat pukul 13.00 WIB, terpantau lengang dan nyaman. Berbeda dengan suasana padat di pagi dan sore hari, rangkaian LRT siang ini memberikan keleluasaan bagi para penumpang untuk duduk dengan tenang sepanjang perjalanan.

Hampir semua kursi di dalam gerbong tersedia, sehingga para pengguna bisa menikmati transportasi massal ini tanpa harus berdesakan.

Situasi tersebut memberi pengalaman berbeda bagi penumpang. Seorang warga yang rutin menggunakan LRT untuk bekerja menyampaikan bahwa perjalanan siang terasa lebih santai. “Kalau naik LRT di jam sibuk pagi atau sore, biasanya penuh, banyak yang berdiri. Tapi kalau siang begini enak, semua bisa duduk, suasana sepi, dan nyaman sekali,” ujarnya kepada Mdi.News.

Perbedaan arus penumpang ini memang sudah menjadi pola umum sejak LRT Jabodebek dioperasikan secara penuh. Pada jam sibuk pagi (sekitar pukul 06.30–08.30 WIB) dan sore (sekitar pukul 17.00–19.00 WIB), penumpang membludak, terutama di stasiun besar seperti Dukuh Atas, Cawang, dan Harjamukti.

Namun, di luar jam sibuk, kereta cenderung lengang. Pola ini menegaskan bahwa LRT kini sudah menjadi pilihan utama bagi pekerja komuter, tetapi tetap menyisakan ruang bagi masyarakat lain untuk menikmatinya pada waktu yang lebih sepi.

Selain kenyamanan duduk, kondisi di dalam LRT siang ini juga terlihat rapi dan bersih. Sistem pendingin udara bekerja optimal, pencahayaan dalam gerbong terang, serta suara pengumuman perjalanan terdengar jelas. Kombinasi faktor tersebut membuat pengalaman naik LRT terasa modern dan sesuai dengan standar transportasi publik perkotaan.

Keberadaan LRT sendiri dipandang sebagai solusi transportasi yang ramah lingkungan sekaligus efisien. Moda berbasis kereta ini mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi, sehingga berkontribusi menekan angka kemacetan dan polusi udara di Jakarta. Pemerintah pun terus mendorong masyarakat untuk beralih menggunakan transportasi massal, sejalan dengan visi pembangunan kota yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Pengamat transportasi menilai bahwa suasana lengang di siang hari dapat menjadi peluang bagi masyarakat yang memiliki fleksibilitas waktu, seperti pelajar, mahasiswa, maupun pekerja lepas, untuk lebih sering memanfaatkan LRT. “Kalau masyarakat terbiasa bepergian di luar jam sibuk, maka pemanfaatan moda transportasi ini akan lebih merata dan optimal. LRT bisa menjadi andalan bukan hanya untuk pekerja kantoran, tetapi juga untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari yang lebih luas,” ujar salah seorang pengamat.

Selain faktor waktu, integrasi LRT dengan moda transportasi lain juga menjadi daya tarik tersendiri. Stasiun Dukuh Atas misalnya, sudah terhubung dengan MRT Jakarta, KRL Commuter Line, dan TransJakarta. Hal ini menjadikan kawasan tersebut sebagai simpul transportasi modern yang memudahkan mobilitas warga Jakarta maupun penumpang dari daerah sekitar seperti Depok, Bekasi, dan Bogor.

Kenyamanan yang dirasakan pada siang hari ini semakin menguatkan citra LRT sebagai moda transportasi publik yang aman, modern, dan ramah pengguna. Dengan layanan yang stabil, tarif yang terjangkau, serta fasilitas yang memadai, LRT semakin mempertegas perannya sebagai tulang punggung transportasi perkotaan di masa depan.

Momen perjalanan siang seperti pada Kamis, 18 Oktober 2025 ini, memberikan gambaran bahwa transportasi publik di Jakarta tidak hanya berfungsi sebagai penghubung rutinitas kerja, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup baru masyarakat urban yang mengutamakan efisiensi, kenyamanan, dan keberlanjutan.

WWW.MDI.NEWS