Robin Simanullang (Instagram @ch.robin.simanullang)
MDI NEWS | Indramayu, – “Hampir seluruh jemaah di Al Zaytun mengenal saya, ya mengenal sebagai sahabat pak Panji Gumilang,” ungkapnya di kanal yotobe TV one.
“Awal mulanya saya, website toko Indonesia menulis mengenai seperti apa tokoh-tokoh di Indonesia, disitu ada email yang meminta supaya pak Panji Gumilang ditulis, ada juga yang email ke saya dia mengajarkan Islam sesat, tapi bagi saya itu menarik sebagai jurnalis,” ucap Robin Simanulang.
Kemudian saya ke Al Zaytun untuk melihat semua yang ada disana, apa yang diajarkan di Al Zaytun sampai kurikulunya saya minta, apa materi pokok pelajarannya?
“Apakah Pancasila diajarkan di sini,” kata Robin.
Setelah itu, saya juga meminta bahan-bahan meteri dan brosur, sebelum saya wawancara,” ucapnya.
Kemudian kita keliling melihat situasi yang ada di Al Zaytun, disitulah saya berkenalan dengan Panji Gumilang.
“Saya Robin Simanulang, kita berbeda saya seorang kristiani,” kata Robin.
Itu saya sengaja, karena beliau dituduh Islam yang radikal. “Dengan saya mengatakan itu, diluar dugaan saya. Dia langsung melepas tangan saya,” ucap Robin
Kata Panji Gumilang, “jangan bilang begitu” tuhan kita sama. Bagaimana cara kita menyembahnya, jangan tanya siapa yang benar,” jelas Robin.
Robin menyimpulkan, dia sosok ulama yang tahu sejarah Allah.
Pada tahun 2014 ya 2004 saya bersahabat dengan beliau.
“Kontroversi yang ada di Al Zaytun saya tulis, “kami menghindari banyak komentar dari luar, kami yakin diri kami tenang apa yang kami lihat dan apa yang kami dengar dari Zaytun,” ungkap Robin.
“Saya selalu hadir di setiap event penting di Al Zaytun termasuk Idul Fitri, Idul Adha dan Muharam,” ucap Robin.
Robin menjelaskan bahwa salat Ied di Al Zaytun sudah bisa saya lakukan. Mengenai kontroversi salat Ied tentang salat di Al Zaytun, disana jaga jarak dalam pelaksanaan salatnya. Zaytun juga punya 2 Masjid, pertama yang kecil kedua yang Rahmatan Lil Alamin,” kata Robin.
Al Zaytun salatnya memenuhi protokol kesehatan, selain jaga jarak. Diambil darah, dan dia pasang kursi untuk Salat.
“Saya juga beriman, mereka itu sedang memuliakan Allah yang mereka yakini, dan saya juga memulikan Allah yang saya yakini. Suatu kehormatan bagi saya ditempat itu. Mereka salat khusu demikian juga dengan saya. Saya menikmati suasana penyembahan kepada illahi yang yakini juga dengan salat ditempat duduk yang sudah disediakan,” beber Robin.
“Pandemi itu dimaknai disana sebagai loncatan kehidupan untuk suatu orde yang baru, maka sistem salat ini yang mengikuti protokol kesehatan kenapa tidak menjadi suatu hal yang bisa dilakukan dikemudian hari,” katanya.
Yang paling istimewa di Al Zaytun, sambung Robin adalah tradisi mengundang tokoh-tokoh lintas agama ke Al Zaytun misalnya peringatan 1 Suro dan event lainnya.
Menurutnya, ini bentuk toleransi yang dipraktikkan di Al Zaytun dan bisa menjadi model bagi masyarakat luas.
Apa yang dilakukan oleh Al Zaytun dengan tata cara peribadatannya bisa difahami masyarakat, namun, tak sedikit pula yang memberikan kritik dan menilai tidak sesuai dengan kaidah agama Islam.








Pak CH Robin sebagai jurnalis provesional yes brovo MR Robin
Ok