width=
width=

Satgaswil Papua Barat Gelar Podcast di RRI Sorong, Perkuat Benteng Generasi Muda dari Paham Ekstremisme

MDI.NEWS, Sorong — Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Papua Barat menggelar kegiatan Live Streaming Podcast di Pro 1 RRI Sorong, Sabtu (24/1). Mengangkat tema “Torang Cerita – Pencegahan Paham Ekstremisme di Tengah Kalangan Generasi Muda”, kegiatan ini merupakan bentuk kerja sama sinergis antara Satgaswil Papua Barat, tokoh agama, dan RRI guna menangkal paham Intoleran, Radikal, dan Teroris (IRET) di wilayah Provinsi Papua Barat Daya.

Kepala Satgaswil (Ka Satgaswil) Papua Barat, Kombes Pol. Gede Suardana, S.Pd., M.M., menekankan bahwa generasi muda kini menjadi sasaran utama penyebaran paham ekstremisme melalui ruang digital. Ia menegaskan pentingnya deteksi dini terhadap konten intoleran yang berpotensi memecah belah bangsa.

“Kami mengedepankan pendekatan humanis dan edukatif. Generasi muda harus menjadi agen perdamaian dengan memegang teguh nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Kami juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi hoaks serta berani melaporkan indikasi paham radikal secara bertanggung jawab,” ujar Kombes Pol. Gede Suardana.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua Barat Daya, Ustad Drs. H. Mungawan, menyoroti pentingnya moderasi beragama. Ia mengingatkan bahwa pemahaman agama yang sempit dan tekstual sering kali dimanfaatkan pihak tertentu untuk kepentingan ideologis yang menyimpang.

“Agama tidak membenarkan kekerasan. Kami mendorong dialog antarumat beragama dan mengajak para orang tua serta pendidik untuk aktif membimbing generasi muda dalam menyaring informasi keagamaan di media sosial. Toleransi dan cinta tanah air adalah bagian dari iman,” jelas Ustad Mungawan.

Dari perspektif perlindungan sosial, Drs. Setiyo Nastiarwo selaku Fasilitator Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Papua Barat Daya, memaparkan kerentanan perempuan dan anak terhadap rekrutmen paham ekstrem. Ia menekankan bahwa keluarga adalah benteng utama dalam pencegahan radikalisasi.

“Perempuan memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam menanamkan nilai perdamaian di lingkungan keluarga. Peningkatan literasi digital dan pola asuh yang menanamkan cinta tanah air sejak dini sangat krusial untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan aman dari ideologi menyimpang,” pungkas Setiyo.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi lintas sektor antara aparat keamanan, lembaga keagamaan, dan media massa dalam menjaga stabilitas serta keharmonisan di Bumi Cendrawasih, khususnya bagi masa depan generasi muda Papua Barat Daya.  (***)

WWW.MDI.NEWS