MDI.NEWS, Bekasi –- Sejarah Peradaban Islam. Hajar Aswad, batu suci yang terletak di sudut timur Ka’bah, menyimpan sejarah panjang yang sarat dengan ujian dan tragedi. Salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Islam terjadi ketika Hajar Aswad dicuri oleh kelompok Qaramithah dan baru dikembalikan setelah 22 tahun dalam kondisi tidak lagi utuh.
Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 317 Hijriah (930 Masehi). Kelompok Qaramithah yang dipimpin Abu Thahir al-Qarmathi menyerang Kota Makkah saat musim haji. Dalam serangan brutal itu, ribuan jamaah haji menjadi korban, dan kesucian Tanah Haram ternodai. Hajar Aswad pun dicabut dari tempatnya dan dibawa ke wilayah yang kini dikenal sebagai Bahrain.
Selama 22 tahun, Ka’bah berdiri tanpa Hajar Aswad. Berbagai upaya dilakukan oleh para khalifah dan ulama untuk mengembalikannya, hingga akhirnya pada tahun 339 Hijriah, batu suci tersebut dikembalikan ke Makkah.
Namun, Hajar Aswad tidak kembali dalam kondisi semula. Berdasarkan berbagai catatan sejarah Islam, di antaranya karya Ibnu Katsir, Al-Azraqi, dan Ath-Thabari, Hajar Aswad telah mengalami retakan dan terpecah menjadi beberapa bagian.
Untuk menjaga keutuhannya, para pengurus Ka’bah saat itu menyatukan pecahan-pecahan tersebut dan memasangnya kembali dengan bingkai perak, yang hingga kini masih dapat disaksikan oleh umat Islam.
Para sejarawan menegaskan, meskipun Hajar Aswad tidak lagi utuh secara fisik, kesuciannya tidak berkurang sedikit pun. Dalam ajaran Islam, Hajar Aswad bukanlah objek yang disembah, melainkan simbol ketaatan dan sunnah Nabi Muhammad SAW yang dianjurkan untuk dihormati.
Sejarah pencurian Hajar Aswad menjadi pengingat bahwa bahkan tempat paling suci sekalipun pernah diuji oleh konflik dan kekerasan. Di sisi lain, peristiwa ini juga menunjukkan keteguhan umat Islam dalam menjaga warisan spiritual dan sejarahnya hingga hari ini.
Imam Setiadi – MDINEWS







