Sukarno dan Kartosuwiryo, Dua Pena Tajam di Balik Perjuangan Kemerdekaan
MDI NEWS – Bekasi – Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia mengenang jasa para pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan. Namun, tidak semua pahlawan menenteng senjata. Ada pula yang mengangkat pena sebagai alat perjuangan. Di antara mereka, dua nama besar tercatat dalam sejarah: Ir. Sukarno dan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo adalah dua pena tajam yang menorehkan gagasan besar di balik perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Sebelum dikenal sebagai tokoh politik dan ideolog bangsa, Sukarno terlebih dahulu dikenal sebagai penulis yang berani. Ia menggunakan media seperti Fikiran Ra’jat dan Suluh Indonesia Muda untuk menyalakan semangat nasionalisme. Dalam setiap tulisannya, Sukarno menggugat ketidakadilan kolonial dan menyerukan persatuan seluruh elemen bangsa. Dari pena Sukarno, lahir keyakinan bahwa kemerdekaan bukanlah pemberian, melainkan hasil perjuangan sadar dan terorganisir.
Berbeda latar namun sejiwa dalam perlawanan, Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo juga menempuh jalan jurnalistik sebelum menjadi tokoh pergerakan bersenjata. Melalui surat kabar Fajar Asia dan Suluh Indonesia Muda, Kartosuwiryo menulis dengan ketegasan ideologis yang mencerminkan pandangan keislamannya. Ia menolak hegemoni Barat dan menyerukan kebangkitan moral bangsa yang berakar pada nilai keadilan dan spiritualitas. Pena bagi Kartosuwiryo adalah senjata untuk menggugah kesadaran umat dan menolak penindasan.
Kedua tokoh ini menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya di medan perang, tetapi juga di medan gagasan. Mereka memahami bahwa tulisan mampu menembus batas, menyalakan keberanian, dan menggerakkan rakyat. Dalam ruang redaksi masa kolonial, di antara keterbatasan dan sensor ketat Belanda, mereka tetap menulis, karena yang dipahami arti diam dalam pandangan mereka adalah diam berarti tunduk.
Memperingati Hari Pahlawan bukan hanya mengenang pertempuran fisik, tetapi juga menghargai perjuangan intelektual yang membentuk arah bangsa. Pena Sukarno dan Kartosuwiryo menjadi simbol bahwa kemerdekaan lahir dari keberanian berpikir, menulis, dan menyuarakan kebenaran, sekalipun di bawah ancaman penjara atau pengasingan.
Kini, di tengah arus informasi digital, semangat itu seharusnya tetap hidup. Jurnalis dan penulis masa kini memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kemerdekaan berpikir dan berbicara. Kebenaran tetap harus disuarakan, sebagaimana dulu Sukarno dan Kartosuwiryo menjadikan kata-kata sebagai peluru perjuangan.
Mari, di Hari Pahlawan ini, kita renungkan kembali pesan sejarah itu. Bahwa menjadi pahlawan tidak selalu berarti angkat senjata yang terkadang cukup dengan keberanian menulis dan menyampaikan kebenaran demi bangsa.
Sebagai jurnalis saya percaya, pena yang jujur dan bebas adalah warisan paling berharga dari para pahlawan.
Imam Setiadi untuk Indonesia Raya







