width=
width=
FILM  

Suniel Tolak Film Korea, Alasannya: “Peran Kami Distigma Negatif?”

MDI.NEWS | Film — Dunia hiburan dibuat tercengang ketika aktor senior Bollywood, Suniel Shetty, mengungkapkan bahwa ia pernah menerima tawaran untuk terlibat dalam sebuah proyek film Korea Selatan. Namun berbeda dari ekspektasi banyak penggemar yang berharap aktor laga legendaris itu tampil dalam panggung internasional, Suniel justru memilih untuk menolak kesempatan tersebut.

Dalam wawancara terbarunya, aktor berusia 63 tahun itu menjelaskan bahwa keputusan itu bukan didasari ketidaktertarikan terhadap industri film Korea yang kini berkembang pesat dan mendominasi pasar global melalui gelombang K-content seperti K-drama, K-movie, dan K-pop melainkan karena bentuk peran yang ditawarkan kepadanya. Menurut Suniel, sejumlah naskah yang ia terima dari studio Korea menempatkan aktor Bollywood dalam posisi stereotip sebagai antagonis.

Suniel menilai pola tersebut tidak sehat bagi hubungan industri film lintas negara. Ia menegaskan bahwa banyak proyek kolaborasi internasional cenderung menciptakan kontras cerita dengan menjadikan aktor asing sebagai “musuh”, alih-alih memberikan representasi yang adil dan berimbang. Baginya, hal itu justru menciptakan kesenjangan budaya dan mengaburkan kekayaan karakter yang bisa dihadirkan oleh aktor India.

Aktor yang dikenal melalui film-film seperti Mohra, Border, dan Dhadkan itu menyoroti bahwa karakter Bollywood sering kali digambarkan secara simplistik dalam skenario internasional—sebagai tokoh jahat, mafia, atau antagonis klise yang tidak memiliki kedalaman emosional. Suniel menilai pendekatan tersebut bukan hanya merugikan profil artis India, tetapi juga mempersempit ruang eksplorasi budaya yang seharusnya menjadi tujuan utama kerja sama lintas negara.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi internasional idealnya mampu menciptakan pertukaran budaya yang sehat, saling menghormati, serta membuka ruang dialog kreatif yang setara. Suniel mengakui bahwa industri hiburan Korea mengalami kemajuan luar biasa dan layak diapresiasi atas kualitas produksi, sinematografi, dan kekuatan ceritanya. Namun representasi yang tidak seimbang, menurutnya, justru dapat mencederai nilai autentisitas dalam proyek kolaboratif.

Meski ia menolak tawaran dari Korea Selatan tersebut, Suniel Shetty tetap membuka pintu untuk proyek internasional di masa depan. Syaratnya jelas: peran yang ditawarkan harus membawa representasi positif, tidak merendahkan komunitas mana pun, serta memberikan ruang artistik yang proporsional bagi aktor dari berbagai negara.

Suniel menutup pernyataannya dengan keyakinan bahwa kolaborasi antarindustri film dapat menghasilkan karya besar jika dibangun di atas niat yang tulus, pemahaman lintas budaya, dan penulisan karakter yang adil. Baginya, kualitas peran jauh lebih penting daripada sekadar eksposur global.

(Dari berbagai sumber)

Editor: Dudung
WWW.MDI.NEWS