width=
width=

Tragis, Programmer di China Meninggal Akibat Lembur, Masih Ditagih Tugas 8 Jam Setelah Wafat

Ilustrasi programmer bekerja (Foto : freepik.com )

MDI.NEWS, Jakarta – Sebuah tragedi yang memicu kemarahan sekaligus simpati publik terjadi di industri teknologi China. Seorang programmer berusia 30-an dilaporkan meninggal dunia akibat kelelahan ekstrem setelah menjalani rutinitas kerja lembur yang intensif. Peristiwa ini menjadi viral bukan hanya karena kematiannya, melainkan karena ironi yang terjadi setelah sang pekerja mengembuskan napas terakhir.

Peristiwa memilukan ini terjadi pada 29 November 2025. Korban yang bekerja di sebuah perusahaan teknologi di wilayah Guangzhou tersebut dinyatakan meninggal dunia pada pukul 13.00 waktu setempat akibat serangan jantung setelah mendadak pingsan di tengah jam kerja. Meski kondisi tubuhnya sudah tidak bugar sejak pagi, dedikasinya membuat ia tetap memaksakan diri untuk masuk kantor.

“Deadline” yang Melampaui Nyawa

Kematian korban rupanya tidak serta-merta menghentikan tuntutan pekerjaan. Sekitar delapan jam setelah ia dinyatakan wafat, ponsel milik korban masih bergetar menerima notifikasi pesan dari kantor. Bukannya ucapan duka cita, pesan tersebut berisi instruksi untuk segera memperbaiki hasil inspeksi pekerjaan yang dianggap bermasalah.

Kejadian ini memicu gelombang reaksi keras di media sosial. Publik mengecam budaya kerja “always on” yang dianggap telah mencabut sisi kemanusiaan dari para pekerja.

“Deadline ternyata lebih abadi daripada nyawa,” tulis salah satu netizen dalam sebuah komentar satir yang banyak dibagikan.

Manusia yang Diperlakukan Bak Mesin

Fakta memilukan lainnya terungkap bahwa sesaat sebelum kondisinya kritis, korban masih terpantau aktif di grup percakapan kantor. Fenomena ini memperlihatkan realitas kelam di mana tekanan kerja membuat individu diperlakukan layaknya mesin yang harus siaga selama perangkat digital mereka masih aktif.

Meski China memiliki regulasi ketat mengenai batasan jam kerja, praktik lembur massal di sektor teknologi sering kali dianggap sebagai standar loyalitas. Pekerja yang memilih untuk beristirahat kerap kali mendapatkan stigma negatif atau dicap tidak profesional.

Kegagalan Sistemik dan Humor Pahit

Kasus ini membuka ruang diskusi lebar mengenai kesehatan mental dan perlindungan tenaga kerja. Banyak pihak menilai tragedi ini bukan sekadar nasib buruk personal, melainkan kegagalan sistemik perusahaan dalam menjaga keselamatan karyawannya.

Munculnya humor-humor pahit di internet terkait kejadian ini dipandang sebagai bentuk keputusasaan kolektif para pekerja modern. Fenomena “kerja sampai mati” kini bukan lagi sekadar kiasan, melainkan kenyataan pahit yang menghantui.

Tragedi pada akhir November 2025 ini menjadi pengingat keras bagi dunia korporasi: di balik tumpukan kode dan notifikasi ponsel, ada raga manusia yang memiliki batas. Jika sistem terus menutup mata, kematian pun hanya akan dianggap sebagai “gangguan teknis” kecil di tengah tuntutan produktivitas yang tak ada habisnya.

WWW.MDI.NEWS