width=
width=
TOKOH  

Viral! Ustad Nasih: Al Zaytun Progresif Memiliki Kemandirian Intelektual dan Finansial

MDI NEWS | Jakarta, – Masih menjadi polemik di masyarakat dunia maya mengenai cara peribadatan di pondok pesantren Al Zaytun, Indramayu, Jawa Barat.

Entah sampai kapan polemik ini akan ada di tengah masyarakat dunia maya padahal sesungguhnya ini terjadi karena pepatah bijak mengatakan “tak kenal maka tak sayang”, mungkin itu lebih tepat dikatakan dari pada lainnya (kurang baca dan kuno).

Kondisi viral ini karena ada konten yang dianggap tidak lumrah dalam masyarakat Islam itu sendiri entah disengaja diedarkan atau tidak sengaja diedarkan konten video itu karena tahu tahu ini menjadi viral.

Cukup banyak akun-akun yang sekarang mendapatkan benefit dari “Al Zaytun” semacam Pansos gitulah tapi toh akun-akun itu tetap pada pendapatnya, apa mungkin itu untuk “mempertahankan” pengikut palsunya?

Bila mengutip perkataan ketua MUI Kabupaten Indramayu H. Moh. Satori di akun short youtube @maryoabirasya “bahwa Al Zaytun eksklusif”, tapi kok bisa viral dan diketahui Al Zaytun menggunakan media sosial yakni youtube @alzaytunofficial apakah youtube itu media eksklusif?

Apa yang terlihat oleh masyarakat dunia maya itu bukan sesuatu yang baru dan bukan tanpa ilmu karena yang melaksanakan tata cara peribadatan itu adalah seorang Profesor dan lulusan dari pesantren Gontor juga lulusan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sekarang berubah menjadi UIN Syarif Hidayatulah Jakarta.

Awak media MDI News berkesempatan mewawancarai via sambungan telpon pemilik akun youtube @mohammadnasih2164 dengan nama sesungguhnya adalah Dr. Mohammad Nasih pendiri Monasmuda Institute, Nasih mengatakan hal yang berbeda mengenai tata cara peribadatan yang dilakukan Al Zaytun “itu hal yang biasa saja dan tidak perlu dibahas lagi tinggal pilih saja karena itu persoalan khilafiyah zaman dulu.

Bila umat Islam banyak membaca dan memiliki wawasan luas tentang Islam masa lampau itu tidak mungkin sampai seperti ini, itu pernah ada dan untuk apa membicarakan masa lampau? Al Zaytun itu sedang menyampaikan ide progresif atau masa depan bukannya ide lampau seperti yang disampaikan ustadz-ustadz itu.

“Al Zaytun itu punya ide progresif loh dan kenapa Al Zaytun mampu menyampaikan itu? karena Al-Zaytun punya dua kemandirian,” tambahnya.

“Pertama adalah kemandirian intelektual kedua kemandirian finansial makanya mereka berani tidak takut ditinggalkan pendukungnya dan pasti Syaykh Al Zaytun sudah memperhitungkan itu dan Al Zaytun punya uang kok,” jelasnya.

“Saya dosen ilmu politik, saya ingat apa kata Karl Marx ” ide, sejarah itu digerakkan dengan materi” dan Rasulullah membangun peradaban jauh dari zamannya yakni Madinah Al Munawwaroh mengajak pengikutnya untuk mandiri secara finansial maka wujudlah Madinah itu! Nah Syaykh Al-Zaytun menyontoh itu,” paparnya.

Nasih mengutip apa yang disampaikan Muhammad Abduh ” Islam itu tertutup oleh umat Islam itu sendiri” artinya umat Islam mengalami distorsi dan itu terbukti saat ini. Tercermin Nasih mematahkan pernyataan MUI Kabupaten Indramayu bahwa Al-Zaytun itu eksklusif.

“Saya rasa tidak karena saya membuktikan sendiri dengan saya menghubungi pihak Al Zaytun dan direspon oleh Pak Halim dengan menjawab silakan hadir namun dijadwalkan kapan waktunya supaya kami bisa mempersiapkan di sini,” ujarnya.

Nasih menandaskan bahwa umat Islam sekarang ada dalam kondisi distorsi dan rugi, berdasar dari surat Al-Kahfi 103 – 105 “orang itu menjadi rugi itu bukan karena tidak memanfaatkan waktu tapi justru karena sudah memanfaatkan waktu namun amalnya tidak didasarkan pada keimanan yang benar.

Menjawab persoalan adzan Al Zaytun yang tidak pakai lagu dan ada wanita di shaf terdepan karena itu soal makruh saja, tinggal pilih saja menurut Nasih.

Mengakhiri wawancara via sambungan telpon Nasih mengatakan bahwa Islam seperti ini juga karena tidak “menguasai” ekonomi – politik, politik – ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WWW.MDI.NEWS