MDI.NEWS, Kota Bekasi—-Bulan April selalu identik dengan semangat masyarakat Indonesia dalam merayakan “Emansipasi Wanita” yang dipelopori oleh seorang perempuan kelahiran Jepara, Jawa Tengah, pada 21 April 1879. Ia adalah Raden Ajeng Kartini Djojo Adiningrat, yang kemudian lebih dikenal luas dengan sebutan R.A. Kartini, sosok pelopor kebangkitan perempuan Indonesia melalui pemikiran dan karya tulisnya. Rabu, 22 April 2026.
MDI.NEWS berkesempatan menemui Ketua Umum (Ketum) Forum Asistensi Media Nasional (AsMEN), Nurkholis CPLA, di Studio AsMEN, Jalan Puncak Cikunir, Jakasampurna, Kota Bekasi (22/4/2026) untuk menggali pandangannya terkait euforia peringatan Hari Kartini yang rutin diperingati setiap tanggal 21 April di berbagai penjuru negeri.
“Karya tulis Kartini itu bukan untuk dikenang, melainkan sebuah gagasan besar yang bersifat universal dan relevan sepanjang zaman,” ujar Nurkholis membuka pembicaraan dengan penuh penajaman.
Dalam pandangan Cak Nur sapaan akrab Nurkholis gagasan Kartini merupakan perpaduan yang harmonis antara nilai-nilai tradisional dan kontemporer (modern) dalam menyikapi dinamika perubahan dunia yang terus berkembang dari waktu ke waktu.
Lebih lanjut, ia menegaskan sekaligus mengajak seluruh masyarakat untuk membaca ulang serta memahami lebih dalam gagasan dan pemikiran Kartini yang memperjuangkan kesetaraan gender secara luas dan menyeluruh.
Menurutnya, pemikiran Kartini adalah teks yang hidup, terus bertumbuh, serta terbuka untuk ditafsirkan sesuai dengan konteks zaman.
“Karena jika Kartini hanya kita pahami sebagai ibu pelopor emansipasi, maka sebenarnya kita telah mempersempit makna seorang pemikir besar yang sesungguhnya sedang bernegosiasi dan berinteraksi dengan kehidupan alam semesta yang penuh dinamika,” pungkasnya. (***)







