MDI.NEWS, Jakarta – Skak Studios bersama Sinemart menggelar press screening dan konferensi pers film Foufo, Jumat (3/7/2026) Epicentrum XXI Rasuna Said Kuningan Jakarta. Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pembuat film, para pemain, serta puluhan awak media sebagai bagian dari rangkaian menjelang penayangan perdana film di bioskop pada 9 Juli 2026.
Acara menghadirkan Executive Producer David Setiawan Suwarto, Producer Ricky R. Setiyawan, Producer sekaligus Sutradara Bayu Skak, serta Penulis Skenario Achmad Faishol. Turut hadir para pemain, di antaranya Bayu Skak, Tretan Muslim, Mieke Shahir, Ade Kurniawan, Bambang Ceper, Fuad Sasmita, Hari Otong, Siti Kamariyah, Anggun Dwi Lestari, Ina Pogang, Moh Rifqi, Rizki Biebier, DJ Rara, dan sejumlah pemeran lainnya.
Dalam sambutannya, Bayu Skak mengungkapkan rasa syukur atas sambutan positif yang diberikan para penonton dan media setelah menyaksikan film tersebut. Menurutnya, Foufo merupakan hasil kerja keras seluruh kru dan pemain yang sebagian besar berasal dari Madura dan Jawa Timur.
“Sebanyak 90 persen pemain dalam film ini merupakan talenta lokal. Kami ingin membuktikan bahwa ketika diberi kesempatan, mereka mampu menunjukkan kualitas yang tidak kalah dengan pemain dari mana pun,” ujar Bayu Skak.
Ia menjelaskan, Foufo menghadirkan perpaduan unik antara komedi, fiksi ilmiah, dan budaya Madura. Premis tentang kemunculan UFO di tengah masyarakat Madura dinilai menghadirkan pengalaman sinematik yang berbeda, namun tetap dibalut cerita keluarga yang hangat dan emosional, terutama mengenai hubungan seorang anak dengan ibunya.
Bayu juga menuturkan bahwa proses produksi film memanfaatkan teknologi computer-generated imagery (CGI) dan motion capture untuk menghidupkan karakter makhluk luar angkasa dalam film tersebut. Menurutnya, penggunaan teknologi tersebut menjadi tantangan baru yang mampu meningkatkan kualitas visual produksi.
Sementara itu, Penulis Skenario Achmad Faishol mengaku bangga karena Foufo merupakan debutnya sebagai penulis skenario film panjang. Ia mengatakan kesempatan yang diberikan Skak Studios dan Sinemart menjadi langkah besar dalam mewujudkan cita-citanya berkarya di industri perfilman nasional.
“Saya tidak pernah membayangkan mimpi ini bisa terwujud secepat ini. Kesempatan yang diberikan menjadi bukti bahwa ketika seseorang berusaha dengan sungguh-sungguh dan memiliki niat baik, jalan itu akan terbuka,” kata Achmad Faishol.
Pemeran utama Tretan Muslim menilai film ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga menjadi ruang untuk memperkenalkan wajah lain masyarakat Madura. Ia berharap publik dapat melihat bahwa budaya Madura identik dengan nilai kekeluargaan, religiusitas, dan penghormatan kepada orang tua.
“Film ini menjadi tanggung jawab kami untuk menunjukkan bahwa orang Madura memiliki budaya yang kuat, menjunjung tinggi keluarga, dan sangat menghormati ibu,” ujar Tretan Muslim.
Tretan Muslim mengaku proses pendalaman karakter dilakukan melalui karantina selama dua bulan bersama seluruh pemain. Ia juga membangun emosi dengan membayangkan pengalaman pribadinya bersama sang ibu sehingga adegan-adegan dramatis terasa lebih natural saat proses pengambilan gambar.
Hal senada disampaikan Siti Kamariyah yang menjalani debutnya di film layar lebar. Ia mengaku tidak pernah membayangkan mendapat kesempatan bermain film hingga akhirnya dipercaya Bayu Skak melalui proses audisi daring. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus pesan agar setiap anak senantiasa menghormati orang tua.
“Saya hanya berharap semua anak semakin berbakti kepada kedua orang tuanya, terutama kepada ibu. Itulah pesan yang ingin saya sampaikan melalui film ini,” tutur Siti Kamariyah.
Para produser juga menegaskan bahwa Foufo diharapkan menjadi pembuka jalan bagi semakin banyak talenta daerah untuk memperoleh kesempatan di industri perfilman Indonesia. Mereka meyakini keberhasilan film ini dapat menjadi bukti bahwa potensi para seniman dari luar Jakarta layak mendapatkan ruang yang lebih luas dalam produksi film nasional. (***)






