Satukan Perumahan–Perkampungan, Pacu Smart Village, Perkuat Ketahanan Pangan dan Bangkitkan Seni Budaya
MDI.NEWS, Kabupaten Bekasi — Babak baru Tridaya Sakti mulai ditulis. Kepala Desa terpilih periode 2026–2034, Sopian, S.E., merajut komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat dalam lawatannya ke kediaman Tokoh Pemuda Rizal, RT 007/RW 006, Minggu (4/10/2026) malam. Didampingi Ketua RW 006 Saudih, Tokoh Pemuda Raden, Ustadz Saiful, dan Bang Ijong, Sopian membawa satu pesan: pembangunan desa harus lahir dari persatuan, bukan sekat.
“Saya ingin Tridaya Sakti maju bersama. Tidak boleh lagi ada dikotomi perumahan dan perkampungan. Kita satu desa, satu rumah besar. Pembangunan dan pelayanan harus dirasakan seluruh masyarakat,” tegas Sopian.
“Pemuda jangan hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi pelaku pembangunan sekaligus memiliki ruang berkarya dan ruang ekonomi. Saya menempatkan pemuda sebagai energi perubahan melalui penguatan olahraga, seni, budaya dan ketahanan pangan. Budidaya lele, ternak bebek hingga potensi ekonomi lainnya akan didorong melalui Karang Taruna dan BUMDes,” ungkapnya, Minggu (4/10/2026).
Sopian juga menggagas Buku Desa Tridaya Sakti sebagai arsip sejarah sekaligus identitas kolektif dalam menghimpun perjalanan desa, kepala desa dari masa ke masa, tokoh masyarakat, pembangunan, potensi ekonomi, seni, budaya, tradisi hingga berbagai jejak penting yang membentuk Tridaya Sakti. Bersamaan dengan itu, konsep Smart Village didorong melalui digitalisasi pelayanan, pembenahan jalan dan drainase, penataan lingkungan, serta penguatan pelayanan kesehatan, termasuk rencana pelayanan Puskesmas 24 jam dan ruang rawat inap sesuai kewenangan dan mekanisme pemerintah.
“Kita ingin Tridaya Sakti menjadi desa yang indah, aman, nyaman dan terang-benderang. Bukan hanya infrastrukturnya, tetapi juga pelayanan, ekonomi, teknologi dan manusianya,” ujar Sopian.
Langkah tersebut mendapat apresiasi Dahlianto alias Lian, pemilik Sanggar Tari Nirwasita, “Kami menyambut baik perhatian Pak Sopian terhadap seni budaya. Seni adalah identitas, pendidikan karakter sekaligus jembatan persatuan. Para seniman dan sanggar di Tridaya Sakti siap bersinergi dan memberikan karya terbaik bagi desa. Pembangunan desa tidak cukup berdiri di atas beton dan aspal, tetapi harus memiliki jiwa melalui seni dan budaya,” kata Lian.
Apresiasi serupa disampaikan Sekjen Rumah Hebat Nusantara, Moh Cahyadi atau yang akrab disapa Den Cupank, jurnalis sekaligus sastrawan. Ia menyebut gagasan Buku Desa sebagai “biografi sebuah desa” yang akan menyelamatkan ingatan kolektif dari gerusan zaman.
“Saya sangat mengapresiasi gagasan Pak Sopian. Buku ini bukan sekadar kumpulan data, melainkan cermin perjalanan Tridaya Sakti. Saya siap membantu merumuskan konsep dan penulisannya bersama para tokoh, seniman, budayawan dan masyarakat,” tuturnya.
“Saat kepala desa baru dilantik nanti, kami ingin menyambutnya bukan sekadar dengan seremoni, tetapi dengan karya. Saya bersama seniman dan budayawan Tridaya Sakti akan mempersembahkan pertunjukan seni yang spektakuler, elegan dan sarat pesan kebudayaan sebagai penanda lahirnya babak baru. Sebab desa bukan sekadar tempat tinggal; desa adalah ruang sejarah ditulis, budaya diwariskan dan masa depan dipahat. Semoga Tridaya Sakti bukan hanya terang oleh lampu jalan, tetapi terang oleh gagasan, persatuan, kebudayaan dan masa depan.” Pungkas Den Cupank.(CP/red)






