width=
width=

Ilham Aidit, Nama yang Pernah Disembunyikan dalam Sejarah Perjalanan Bangsa

 

MDI.NEWS – Nama Ilham Aidit tidak dapat dilepaskan dari salah satu bab paling kontroversial dalam perjalanan sejarah politik Indonesia. Ia adalah putra Dipa Nusantara (D.N.) Aidit, salah satu tokoh utama Partai Komunis Indonesia (PKI) pada era 1950-an hingga 1960-an.

Namun, kisah Ilham bukanlah kisah tentang seorang pelaku politik. Ia justru merupakan kisah seorang anak yang harus menjalani kehidupan di tengah stigma sejarah yang melekat pada nama keluarganya.

Ilham pernah menceritakan bahwa setelah peristiwa 1965, dirinya yang ketika itu masih kecil mengalami perubahan besar dalam kehidupan. Ia melihat bagaimana nama ayahnya menjadi bagian dari stigma sosial yang kuat. Dalam sebuah wawancara pada 2010, Ilham mengungkapkan bahwa setelah peristiwa tersebut dirinya tidak lagi menggunakan nama “Aidit” di belakang namanya. Ia kemudian kembali menggunakan nama lengkap Ilham Aidit ketika terlibat dalam Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) pada 2003.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa dampak sebuah konflik politik tidak selalu berhenti pada para pelaku sejarahnya. Anak dan keluarga mereka pun dapat membawa beban sosial dari peristiwa yang terjadi jauh sebelum mereka mampu memahami persoalan politik tersebut. Bagi Ilham, nama Aidit bukan sekadar nama keluarga, tetapi juga bagian dari perjalanan hidup yang pernah membuatnya harus berhadapan dengan stigma dan pertanyaan tentang identitas.

Titik penting dalam perjalanan Ilham terjadi ketika ia terlibat dalam Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB). Forum tersebut mempertemukan anak dan keturunan dari berbagai tokoh yang memiliki latar belakang sejarah politik berbeda. Gagasan yang dibangun adalah agar generasi setelah konflik tidak harus mewarisi permusuhan generasi sebelumnya.

Dalam berbagai kesempatan, Ilham juga mendorong agar sejarah 1965 dipelajari secara lebih lengkap. Ia menekankan pentingnya melihat berbagai rangkaian peristiwa beserta dampaknya terhadap masyarakat. Pandangan tersebut merupakan bagian dari kesaksian personal Ilham sebagai anak dari keluarga yang mengalami langsung dampak politik pasca-1965, sehingga perlu ditempatkan berdampingan dengan penelitian dan sumber sejarah lainnya.

Menariknya, perjalanan Ilham kemudian membawanya ke ruang-ruang dialog yang sebelumnya mungkin sulit dibayangkan. Pada 19 Juli 2023, Ilham Aidit hadir di Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, dalam peringatan 1 Syuro 1445 H dan mendapat kesempatan menyampaikan sambutan sebagai salah satu pembicara. Kehadirannya menjadi perhatian karena ia dikenal sebagai putra D.N. Aidit.

Dalam sambutannya, Ilham mengungkapkan rasa tidak menyangka mendapat undangan untuk berbicara di sebuah pesantren.
Kehadiran Ilham di Al-Zaytun tidak berhenti pada satu kegiatan. Pada 27 Agustus 2026, ia kembali hadir dalam peringatan Milad ke-27 Ma’had Al-Zaytun. Dalam kegiatan tersebut, Ilham termasuk tokoh yang hadir dan menyampaikan pandangan mengenai kecintaan kepada Indonesia, pendidikan, serta persatuan bangsa.

Perjalanan tersebut memperlihatkan sisi lain dari sejarah Indonesia: bagaimana seseorang yang lahir dari keluarga yang berada di tengah pusaran konflik politik masa lalu kemudian menjalani kehidupannya sendiri. Nama yang dahulu pernah disembunyikan itu kini justru digunakan secara terbuka dalam berbagai ruang dialog kebangsaan.

Sejarah, pada akhirnya, bukan hanya tentang tokoh yang berada di panggung politik, tetapi juga tentang anak-anak dan keluarga yang harus menjalani kehidupan setelah sebuah konflik berakhir. Kisah Ilham Aidit menjadi salah satu potret bahwa perjalanan bangsa juga menyimpan cerita tentang identitas, stigma, rekonsiliasi, dan upaya memahami masa lalu tanpa harus mewariskan pertentangan kepada generasi berikutnya.

Imam Setiadi

WWW.MDI.NEWS