, Jakarta—–Film Monster Pabrik Rambut resmi diperkenalkan kepada publik melalui konferensi pers yang menghadirkan jajaran pemain dan kru. Rabu, 29 April 2026.
Karya produksi Palari Films ini menjadi proyek kolaborasi lintas negara yang cukup ambisius. Film tersebut lebih dulu menjalani penayangan perdana dunia (world premiere) di Berlinale, Berlin, Jerman, pada Februari 2026.
Secara produksi, film ini melibatkan kerja sama lima negara, yakni Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis.
Distribusi internasionalnya turut didukung oleh Showbox dari Korea Selatan. Saat pemutaran perdana di Berlin, film ini disaksikan sekitar 2.000 penonton dan memperoleh respons positif dari media serta audiens global.
Sutradara Edwin menjelaskan bahwa ide film berangkat dari realitas kehidupan sehari-hari, terutama rutinitas dunia kerja. Ia menyebut gagasan cerita muncul dari refleksi sederhana tentang aktivitas manusia.
Ia mengatakan, “Film ini lahir dari pertanyaan kenapa kita bekerja dan kenapa kita terus mengulang rutinitas yang sama setiap hari.”
Melalui pendekatan horor, fantasi, dan komedi, film ini mencoba menggambarkan sisi lain sistem kerja yang kerap kali tidak manusiawi.
Proyek ini juga melibatkan sejumlah nama besar di industri kreatif Indonesia, seperti Ernest Prakasa, Dian Sastrowardoyo, dan Maudy Ayunda.
Kehadiran mereka dinilai memperkuat kualitas produksi sekaligus menjadi wujud kepercayaan terhadap proyek ini. Pihak produser menegaskan bahwa semangat kolaborasi menjadi fondasi utama, terutama setelah industri film bangkit dari masa pandemi.
Dari sisi cerita, film ini mengisahkan tiga bersaudara yang kembali ke pabrik tempat ibu mereka bekerja setelah sang ibu meninggal dunia.
Tokoh Putri, Ida, dan Bona harus menggantikan posisi ibunya, sekaligus mencari tahu penyebab kematian yang dianggap tidak wajar. Alur ini menyoroti tekanan kerja, beban ekonomi, hingga sisi gelap dunia industri yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Aktor Iqbaal Ramadhan menilai tema yang diangkat memiliki relevansi global. Ia menyebut pengalaman kerja penuh tekanan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dirasakan di berbagai negara.
Ia mengungkapkan, “Ternyata rasa lelah, tekanan kerja, sampai konflik dengan lingkungan kerja itu dirasakan juga oleh penonton di Eropa.”
Selain tampil di Berlin, film ini juga diputar dalam festival film di Hong Kong dan mencatatkan tiket yang terjual habis.
Pencapaian tersebut memperkuat bahwa isu yang diangkat bersifat universal dan mampu menjangkau audiens lintas budaya. Respons positif dari penonton menunjukkan bahwa tema dunia kerja dapat diterima secara luas.
Proses produksi dilakukan di gedung Perum Produksi Film Negara (PFN), yang memiliki nilai historis dalam perfilman Indonesia. Sutradara memanfaatkan karakter bangunan tersebut untuk memperkuat atmosfer cerita, sekaligus menghadirkan efek visual praktikal tanpa bergantung pada teknologi CGI.
Film Monster Pabrik Rambut dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026, dengan harapan menjadi tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang realitas dunia kerja modern. (***)







