MDI.NEWS | JAKARTA — Serikat Penggerak Pendidikan Masyarakat Indonesia (SP2MI) bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) Ranting Rambutan mendorong penerapan ketahanan pangan berbasis lingkungan melalui kegiatan Diskusi Pagi di Masjid Jami Al Amiria, Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Kamis (15/10/2026).
Diskusi bertema “Pentingnya Kembali kepada Alam Mencegah Krisis Planet Bumi dengan Menerapkan Ketahanan Pangan Lingkungan” tersebut menghadirkan ahli ketahanan pangan urban, Dr. Taufik Supriadi Yusuf, dan dimoderatori Ketua Umum SP2MI Drs. H. Amirudin Yusuf.
Kegiatan ini ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya warga RT 10 Kelurahan Rambutan, mengenai pemanfaatan lingkungan untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga kelestarian bumi.
Ketua Umum SP2MI Drs. H. Amirudin Yusuf mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi SP2MI dengan DMI Ranting Rambutan yang diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui program nyata di lingkungan masyarakat.
“Harapan saya di rapat kerja SP2MI dan DMI Ranting Rambutan ini akan dibahas dan nanti bisa diaplikasikan,” ujar Amirudin.
Menurut Amirudin, konsep yang disampaikan Dr. Taufik relevan dengan kebutuhan masyarakat, terutama dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan. Penerapan konsep tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi sebagian kebutuhan pangan sekaligus memanfaatkan potensi lingkungan sekitar.
Amirudin juga menyampaikan bahwa Dr. Taufik telah menyatakan kesediaannya untuk mendampingi masyarakat dalam upaya memperbaiki ekosistem lingkungan di Kampung Rambutan.
Sementara itu, Dr. Taufik Supriyadi Yusuf mengatakan menjaga lingkungan dapat dimulai dari lingkungan masing-masing. Ia menilai keterlibatan masyarakat penting agar upaya menjaga bumi dapat berlangsung secara berkelanjutan dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Dalam diskusi, Taufik memperkenalkan konsep pemanfaatan sampah dan sumber daya lingkungan sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan. Sampah nonorganik dapat dipilah dan memiliki nilai ekonomi, sedangkan sampah organik dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan peternakan dan pertanian.
Ia mencontohkan sampah organik dapat digunakan untuk budidaya maggot. Maggot kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ayam dan ikan. Hasil peternakan tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Selain itu, Taufik menyampaikan sejumlah metode pengelolaan lingkungan, seperti lubang resapan biopori, komposter, eco enzyme, dan teknologi pengolahan sampah.
Pengelolaan tersebut, menurut Taufik, juga dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi masyarakat. Hasil peternakan dan perikanan dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendukung kelestarian lingkungan.
Konsep tersebut, kata Taufik, sejalan dengan prinsip triple bottom line, yaitu keseimbangan antara manusia (people), keuntungan ekonomi (profit), dan kelestarian lingkungan (planet).
“Kami ingin menggandeng Kampung Rambutan untuk kami dampingi karena semangatnya sudah ada,” kata Taufik.
Ia menilai Kampung Rambutan masih memiliki potensi lingkungan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan. Menurutnya, keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang karena berbagai metode dapat disesuaikan dengan kondisi masyarakat.
Kolaborasi SP2MI dan DMI Ranting Rambutan selanjutnya diharapkan dapat berkembang menjadi program pendampingan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan, pemanfaatan sampah, urban farming, serta penguatan ketahanan pangan berbasis komunitas.






