MDINEWS – Borderline Personality Disorder (BPD) merupakan salah satu gangguan kesehatan mental yang masih sering disalahpahami di masyarakat. Kondisi ini ditandai dengan ketidakstabilan emosi, pola hubungan yang intens namun tidak stabil, serta kesulitan dalam mengelola perasaan dan citra diri.
Para ahli menjelaskan bahwa individu dengan BPD kerap mengalami perubahan suasana hati yang sangat cepat, rasa takut berlebihan akan ditinggalkan, hingga perilaku impulsif yang berisiko. Dalam beberapa kasus, penderita juga dapat mengalami kecenderungan menyakiti diri sendiri atau pikiran untuk mengakhiri hidup, sehingga membutuhkan perhatian serius.
“BPD bukan sekadar perubahan emosi biasa. Ini adalah kondisi psikologis yang kompleks dan memerlukan penanganan profesional,” ujar seorang psikolog klinis dalam keterangannya.
Penyebab BPD sendiri belum dapat dipastikan secara tunggal. Namun, sejumlah faktor diduga berperan, seperti pengalaman traumatis di masa kecil, lingkungan keluarga yang tidak stabil, hingga faktor biologis dan genetik. Kombinasi dari faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang.
Di sisi lain, stigma masyarakat terhadap gangguan mental masih menjadi tantangan besar. Banyak penderita BPD yang enggan mencari bantuan karena takut dicap negatif atau tidak dipahami. Padahal, penanganan yang tepat seperti terapi psikologis—termasuk terapi perilaku dialektis (DBT)—terbukti dapat membantu penderita mengelola emosi dan meningkatkan kualitas hidup.
Tenaga kesehatan juga mengimbau pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam memberikan dukungan. Pendekatan yang penuh empati, tanpa menghakimi, dinilai menjadi kunci dalam membantu proses pemulihan penderita.
Dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami kondisi seperti BPD. Edukasi yang tepat tidak hanya membantu mengurangi stigma, tetapi juga membuka jalan bagi penderita untuk mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.
Sumber: Berbagai sumber kesehatan mental







