MDINEWS, Jakarta – Sutradara Hanung Bramantyo tidak sekadar menghadirkan teror dalam film “Lobang Buaya”. Di balik kisah pembunuhan berantai yang menjadi inti cerita, Hanung menyisipkan sejumlah simbol untuk menggambarkan ketakutan, kekuasaan, konflik sosial, serta luka sejarah yang menurutnya masih terasa hingga kini. Pada Jumat, (28/8/26).
Hal tersebut disampaikan Hanung dalam konferensi pers peluncuran official trailer dan final poster “Lobang Buaya” di Cinema XXI Senayan City, Jakarta, 28 Agustus 2026.
Film produksi Adhya Pictures dan Dapur Film itu mengambil latar 1964, setahun sebelum peristiwa kelam 1965. Cerita berpusat pada teror pembunuhan berantai di Desa Lobang Buaya dan penyelidikan Letnan Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra.
Namun, Hanung menegaskan “Lobang Buaya” bukan film tentang peristiwa 30 September 1965 ataupun remake film G30S/PKI. Ia justru menggunakan sebuah desa pada 1964 sebagai ruang untuk membangun cerita fiksi tentang konflik sosial dan teror.
“Ini bukan film tentang 30 September atau reverse angle-nya, ataupun remake-nya. Bukan. Kita menampilkan desa satu tahun sebelum 30 September,” ujar Hanung.
Horor sebagai Simbol Teror
Bagi Hanung, simbol paling penting dalam film tersebut bukan semata-mata sosok hantu. Horor digunakan sebagai bahasa untuk menggambarkan bentuk teror yang lebih luas dan terkadang tidak terlihat.
Ia merujuk pada pemahamannya terhadap genre horor sejak film klasik “The Cabinet of Dr. Caligari”. Menurut Hanung, horor tidak harus selalu diwujudkan melalui jump scare atau kemunculan makhluk menyeramkan.
Horor dapat hadir melalui situasi masyarakat yang penuh tekanan, ketakutan, dan ketidakpastian.
“Horor itu adalah teror. Teror yang tidak terjawab,” kata Hanung.
Pemikiran tersebut kemudian diterapkan Hanung dalam “Lobang Buaya”. Teror dalam film tidak hanya datang dari sesuatu yang bersifat supernatural, tetapi juga dari persoalan kekuasaan, korupsi, tuduhan, serta ketidakadilan.
“Dari saya kecil sampai sekarang, seakan-akan ada satu topik yang dianggap tabu untuk dibicarakan. Saya berpikir kembali, perasaan apa yang kita rasakan ketika mendengar peristiwa ’65? Jawabannya adalah horor,” ujar Hanung.
“Hantu Bolong” dan Ketakutan Masyarakat
Salah satu simbol yang muncul dalam cerita adalah sosok “Hantu Bolong”. Dalam materi resmi film, kemunculan rumor mengenai Hantu Bolong menjadi bagian dari teror yang menyelimuti Desa Lobang Buaya.
Namun, dari penjelasan Hanung, kehadiran sosok mistis tersebut juga berkaitan dengan cara masyarakat Indonesia memahami sesuatu yang tidak dapat dijelaskan.
Menurutnya, masyarakat Indonesia memiliki kedekatan dengan mitologi dan mistifikasi. Karena itu, sesuatu yang tidak diketahui atau sulit dijelaskan kerap diterjemahkan melalui sosok supernatural.
Dengan demikian, hantu dalam “Lobang Buaya” tidak hanya ditempatkan sebagai sumber ketakutan, tetapi juga menjadi simbol dari sesuatu yang belum terjawab.
“Kalau kita bicara peristiwa, kenapa harus setan? Karena kita itu yang dekat dengan kita,” kata Hanung.
Bagi Hanung, menggunakan hantu justru membuat persoalan yang kompleks dapat diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih dekat dengan penonton Indonesia.
Tujuh Setan Desa Bukan Tujuh Jenderal
Simbol lain yang mendapat perhatian dalam konferensi pers adalah istilah “tujuh setan desa”.
Hanung menjelaskan bahwa istilah tersebut memiliki konteks sosial-politik tersendiri. Ia merujuk pada kelompok-kelompok yang pada masa itu dianggap sebagai pihak yang mengeksploitasi masyarakat desa.
Ia menyebut beberapa contoh, antara lain rentenir, pengepul, tuan tanah, serta pejabat desa yang dianggap menggunakan kedudukannya untuk kepentingan pribadi.
Menurut Hanung, konsep tersebut tidak boleh begitu saja disamakan dengan tujuh perwira yang tewas dalam peristiwa di Lubang Buaya.
“Tujuh setan desa yang menjadi tujuan Partai Komunis Indonesia untuk melawan itu nyata,” ujar Hanung.
Ia bahkan menyinggung bagaimana istilah “tujuh setan” dapat dikaitkan secara berbeda dalam ingatan sejarah masyarakat Indonesia.
Bagi Hanung, justru perbedaan asosiasi tersebut menunjukkan bagaimana simbol dapat memperoleh makna baru ketika ditempatkan dalam konteks sejarah tertentu.
Soegeng sebagai Mata Penonton
Di tengah simbol-simbol tersebut, karakter Letnan Soegeng menjadi jalur bagi penonton untuk memasuki dunia “Lobang Buaya”.
Baskara Mahendra memerankan Soegeng sebagai sosok yang bertugas mencari tahu siapa dalang di balik pembunuhan berantai di desa.
Siaran pers resmi film menyebut penonton akan mengikuti langkah Soegeng dalam menyusun petunjuk demi petunjuk untuk mengungkap misteri tersebut.
Menariknya, Hanung tidak sepenuhnya menempatkan peristiwa yang dialami Soegeng sebagai horor supernatural. Dari sudut pandang karakter tersebut, misteri yang terjadi tetap dapat dilihat sebagai kejahatan yang dilakukan manusia.
Posisi Soegeng kemudian menjadi penting karena ia membawa penonton untuk mempertanyakan kembali setiap petunjuk yang ditemukan.
Ningsih dan Simbol Perempuan yang Menyimpan Misteri
Karakter Ningsih yang diperankan Anya Zen juga menjadi salah satu bagian penting dalam permainan simbol di film.
Ningsih digambarkan sebagai seorang penari ronggeng yang mengalami berbagai peristiwa buruk. Namun, Hanung bersama para pemain sengaja tidak memberikan jawaban secara langsung mengenai siapa yang bertanggung jawab atas apa yang dialami karakter tersebut.
Anya mengatakan misteri Ningsih menjadi salah satu pusat pertanyaan dalam film.
“Banyak hal buruk yang terjadi kepada dia. Tapi siapa yang melakukannya? Nah, itulah yang menjadi pembahasan di film ini,” ujar Anya.
Pertanyaan mengenai posisi Ningsih, hubungannya dengan kematian para tokoh desa, serta keputusan yang diambilnya menjadi bagian dari pengalaman penonton dalam membaca karakter tersebut.
Arum Wangi dan Teror di Ruang Pribadi
Simbol ketakutan kemudian bergeser ke karakter Arum Wangi yang diperankan Carissa Perusset.
Dalam sinopsis resmi, Arum mulai dihantui arwah perempuan yang menuntut bagian tubuhnya dikembalikan. Panggilan arwah yang menyebut Arum sebagai ronggeng kemudian membuka misteri yang menghubungkan kehidupan pribadinya dengan kekacauan di desa.
Carissa menyebut Arum juga menyimpan banyak misteri dan menjadi bagian dari rangkaian pertanyaan yang harus dijawab penonton.
Dengan demikian, horor dalam “Lobang Buaya” tidak hanya terjadi di ruang publik melalui pembunuhan para tokoh desa, tetapi juga masuk ke ruang personal melalui pengalaman Arum.
Riset untuk Mengetahui, Fiksi untuk Mengguncang
Dalam menciptakan simbol-simbol tersebut, Hanung tetap melakukan riset terhadap konteks sejarah film.
Namun, ia memiliki pendekatan yang berbeda terhadap hasil riset. Menurut Hanung, riset dilakukan untuk mengetahui kondisi yang benar-benar terjadi pada masa tersebut. Setelah memahami fakta, ia kemudian menentukan bagian mana yang harus dibuat akurat dan bagian mana yang justru sengaja difiksikan.
“Riset itu tujuannya untuk mengetahui yang benar. Tapi ketika di lapangan, saya salahkan,” ujar Hanung.
Ia mencontohkan detail militer, prosedur penyelidikan, sikap hormat, hingga proses pemeriksaan korban yang tetap diperhatikan agar sesuai dengan konteks zamannya.
Sebaliknya, sejumlah unsur cerita dan visual sengaja dibangun sebagai fiksi untuk kepentingan dramatik.
Bagi Hanung, riset bukan berarti seluruh fakta harus dipindahkan mentah-mentah ke layar. Riset menjadi fondasi bagi sutradara untuk memahami dunia yang hendak diciptakan.
Simbol yang Mengajak Penonton Bertanya
Pada akhirnya, Hanung menggunakan simbol-simbol tersebut untuk membuka ruang pertanyaan, bukan memberikan seluruh jawaban kepada penonton.
“Tujuh setan desa”, Hantu Bolong, penari ronggeng, misteri kematian, hingga perjalanan Soegeng mencari pelaku menjadi kepingan yang saling berhubungan dalam sebuah cerita yang sengaja dibangun dengan banyak lapisan.
Hanung juga menerapkan pola multi-twist agar penonton terus mempertanyakan dugaan mereka terhadap siapa sebenarnya pelaku.
Menurutnya, penonton mungkin merasa telah menemukan jawabannya di tengah cerita, tetapi kemudian kembali diarahkan pada kemungkinan lain.
Melalui pendekatan tersebut, “Lobang Buaya” tidak hanya menawarkan horor sebagai tontonan, tetapi juga menjadikan simbol sebagai cara untuk membicarakan ketakutan yang lebih besar.
Film “Lobang Buaya” dibintangi Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Iskak Khivano, Anya Zen, dan Mathias Muchus. Film produksi Adhya Pictures dan Dapur Film tersebut dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026. (***)






