width=
width=
TOKOH  

Hardiknas 2026, Ketum AsMEN: Pendidikan Bukan Sekedar Ilmu tapi High Class Politic

MDI.NEWS, Kota Bekasi—-Dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei, Tim Wartawan MDI.NEWS berkesempatan mewawancarai Ketua Umum Forum Asistensi Media Nasional (AsMEN), Nurkholis CPLA, di Studio AsMEN, Jalan Puncak Cikunir Jakasampurna, Kota Bekasi.

Dalam perbincangan tersebut, Cak Nur? sapaan akrabnya mengemukakan pandangan kritis sekaligus reflektif mengenai posisi pendidikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, pendidikan tidak bisa lagi dipandang sebatas proses transfer ilmu pengetahuan semata. Ia menegaskan bahwa pendidikan sejatinya memiliki dimensi yang jauh lebih luas dan strategis.

“Pendidikan bukan sekadar ilmu, tapi politik kelas tinggi atau high class politic. Dari pendidikan, kita membentuk cara berpikir, karakter, dan masa depan sebuah bangsa,” ungkapnya kepada awak media, Kamis (1/5/2026).

Cak Nur menilai, selama ini politik kerap dipersempit maknanya hanya sebagai perebutan kekuasaan dan jabatan. Padahal, dalam perspektif yang lebih mendalam, politik justru bekerja melalui proses panjang pembentukan kesadaran masyarakat yang salah satu instrumen utamanya adalah pendidikan.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Antonio Gramsci tentang hegemoni budaya, di mana kekuasaan tidak hanya dijalankan melalui struktur formal, tetapi juga melalui pembentukan pola pikir dan nilai dalam masyarakat.

“Pendidikan berjalan pelan, tapi dampaknya sangat dalam. Ia menanamkan kesadaran dan menumbuhkan rasa kemanusiaan,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia juga mengaitkan peran pendidikan dengan gagasan Paulo Freire, yang menekankan bahwa pendidikan dapat menjadi alat pembebasan, namun juga berpotensi menjadi alat pembatas jika tidak diarahkan dengan benar.

“Karena itu, pendidikan harus memerdekakan manusia, bukan sekadar mencetak tenaga kerja,” tegas Cak Nur.

Ia pun mengingatkan agar dunia pendidikan tidak terseret kepentingan sempit yang dapat mengaburkan tujuan utamanya. Sebab, ketika pendidikan kehilangan arah, yang lahir bukan generasi kritis, melainkan generasi yang mudah dikendalikan.

Nilai-nilai yang diwariskan Ki Hajar Dewantara, lanjutnya, masih sangat relevan hingga saat ini, yakni menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk memerdekakan manusia secara utuh. Momentum Hardiknas, kata Cak Nur, seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi ruang refleksi bersama tentang arah dan kualitas pendidikan di Indonesia.

“Kalau kita ingin melihat masa depan suatu bangsa, lihatlah bagaimana cara kita membangun pendidikan hari ini,” pungkasnya. (***)

Penulis: Imam Setiadi
WWW.MDI.NEWS