width=
width=
TOKOH  

Try Sutrisno Tutup Usia 90 Tahun, Jejak Pengabdian dari Medan Gerilya hingga Kursi Wakil Presiden

MDI.NEWS, Jakarta——Bangsa Indonesia berduka atas wafatnya Try Sutrisno pada Minggu, 2 Maret 2026, dalam usia 90 tahun. Mantan Panglima ABRI sekaligus Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia itu mengembuskan napas terakhir setelah puluhan tahun mendedikasikan hidupnya bagi negara. Kepergian tokoh militer senior tersebut menjadi kehilangan besar, terutama bagi kalangan TNI dan para purnawirawan yang mengenalnya sebagai sosok tegas namun bersahaja.

Try Sutrisno lahir di Surabaya dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai sopir ambulans, sementara situasi revolusi fisik membuat masa kecilnya jauh dari kata nyaman. Ketika agresi militer Belanda kembali mengancam kedaulatan Indonesia, ia masih remaja. Kondisi ekonomi keluarga memaksanya berhenti sekolah dan membantu orang tua dengan berjualan koran serta rokok di kawasan Mojokerto.

Semangat perjuangan telah tumbuh dalam dirinya sejak belia. Pada usia sekitar 13 tahun, ia berupaya mendaftarkan diri sebagai tentara, tetapi ditolak karena belum cukup umur. Penolakan itu tidak menyurutkan tekadnya. Ia kemudian diterima sebagai kurir di Batalyon Poncowati, dengan tugas menyampaikan pesan rahasia, mencari informasi pergerakan musuh, serta membawa logistik dan obat-obatan untuk para pejuang di garis depan.

Pengalaman di masa perang membentuk karakter Try menjadi pribadi yang disiplin dan tahan uji. Setelah situasi negara berangsur stabil, ia melanjutkan pendidikan militer di Akademi Teknik Angkatan Darat. Meski sempat menghadapi kendala dalam proses seleksi awal, ia berhasil menyelesaikan pendidikan dan lulus pada 1959, menandai awal karier militernya secara resmi.

Kariernya berkembang seiring waktu. Ia terlibat dalam berbagai operasi militer, termasuk penumpasan gerakan PRRI di Sumatera. Dedikasinya membuat ia dipercaya menduduki sejumlah jabatan strategis, mulai dari Pangdam V/Jaya, Kepala Staf TNI Angkatan Darat, hingga akhirnya menjadi Panglima ABRI. Pada 1974, ia juga pernah dipercaya menjadi ajudan Presiden saat itu, sebuah posisi yang memperluas perannya dalam lingkar kepemimpinan nasional.

Puncak perjalanan pengabdiannya terjadi ketika ia terpilih sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia periode 1993–1998, mendampingi Presiden Soeharto. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan komitmennya terhadap persatuan nasional. “Persatuan bangsa harus selalu ditempatkan di atas kepentingan golongan,” ujarnya dalam salah satu pidato kenegaraan yang kerap dikutip para koleganya.

Sejumlah tokoh militer dan sipil mengenang Try Sutrisno sebagai figur yang konsisten menjaga integritas. Seorang rekan purnawirawan menyampaikan bahwa almarhum dikenal sebagai pemimpin yang tidak banyak bicara, tetapi tegas dalam prinsip. Menurutnya, Try selalu menempatkan kepentingan negara sebagai prioritas utama dalam setiap keputusan.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir, jenazah Try Sutrisno dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta. Prosesi militer mengiringi kepergiannya sebagai simbol penghargaan atas pengabdian panjangnya sejak masa gerilya hingga purna tugas. Riwayat hidupnya menjadi gambaran bahwa ketekunan, disiplin, dan kesetiaan pada negara mampu mengantarkan seorang anak sederhana menuju puncak kepemimpinan nasional.  (***)

 

Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia – Biografi dan Sejarah Hidup Jenderal Try Sutrisno.

 

 

(Rizki).

WWW.MDI.NEWS