MDI.NEWS | Tokoh -Saya menulis artikel ini dalam rangka ikut berpartisipasi menyambut Hari Pers Nasional 2026 yang diperingati setiap tanggal 9 Februari.
Artikel ini merangkum perjalanan hidup dan kontribusi besar Ruhana Kudus sebagai pelopor pers perempuan dan pejuang emansipasi di Indonesia.
Ruhana Kudus, lahir dengan nama Siti Roehana Koeddoes pada 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Sumatera Barat, dikenal sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Dari usia muda, Ruhana sudah menunjukkan minat besar dalam membaca dan menulis, yang membantunya menjadi pelopor penting dalam dunia jurnalistik dan emansipasi perempuan di Indonesia.
Pada tahun 1912, Ruhana mendirikan surat kabar perempuan pertama di Indonesia yang dinamakan Soenting Melajoe. Surat kabar ini memberi ruang bagi perempuan untuk menulis dan menyuarakan isu-isu seputar hak-hak perempuan, pendidikan, dan kemajuan sosial, yang pada masa itu masih sangat jarang diberitakan. Di bawah kepemimpinannya sebagai pimpinan redaksi, Soenting Melajoe menjadi media yang kritis dan progresif, memperjuangkan suara perempuan di tengah masyarakat kolonial yang penuh keterbatasan.
Selain kiprahnya di dunia pers, Ruhana Kudus juga aktif dalam bidang pendidikan. Ia mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia di kampung halamannya, yang bertujuan memberdayakan perempuan secara ekonomi dan keterampilan agar mereka bisa mandiri. Ruhana memahami bahwa perjuangan melalui pendidikan dan penyebaran informasi melalui jurnalistik adalah dua pilar utama dalam memajukan posisi perempuan.
Pengaruh Ruhana sangat besar pada masanya, bahkan pejabat pemerintah kolonial Belanda pun mengakui kemampuan dan gagasannya. Ruhana menolak jabatan kehormatan dari pemerintah kolonial sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan pribumi.
Sepanjang hayatnya, Ruhana menulis dan memperjuangkan hak perempuan tanpa henti. Ia wafat pada 17 Agustus 1972, namun warisan perjuangannya masih dikenang hingga kini. Ruhana Kudus diangkat sebagai Wartawati Pertama Indonesia dan diakui sebagai Perintis Pers Indonesia, serta diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2019. Nama Ruhana kini diabadikan sebagai inspirasi dan simbol perjuangan perempuan Indonesia dalam dunia jurnalistik dan pendidikan.
Ruhana Kudus membuktikan bahwa pena dan kata-kata adalah senjata ampuh dalam mengubah zaman, terutama dalam memperjuangkan kesetaraan gender dan hak perempuan di Indonesia.
Imam Setiadi







